Menu

Showing posts with label self-motivation. Show all posts
Showing posts with label self-motivation. Show all posts

Monday, July 14, 2014

16 Ramadhan 1435

Tuhan
sungguh Engkau Maha Ada
dan tanpa Belas Kasih-Mu
aku sebutir debu pun bukan, sebuih busa pun bukan

Tuhan 
sungguh Engkau Maha Baik
dan hamba demikian bodoh
tak berdaya menterjemah kebaikan yang telah Engkau mudahkan

Tuhan
sungguh Engkau Maha Segala
Engkau telah mengirimkan orang-orang baik sebagai perantara Rahmat-Mu
dan aku teramat sombong senantiasa menuntut lebih

Tuhan
sungguh Engkau Maha Pengampun
dan mengampuni adalah Sifat-Mu 
dan akulah yang amat dahaga menghiba Ampunan-Mu

Kauman, 14 Juli 2014

Monday, November 5, 2012

#DOA di timeline @gusmusgusmu jilid II

gus mus
sumber: google.com
KH Musthofa Bisri Rembang

sumber: twitter.com/gusmusgusmu

sekadar menyimpan kultwit KH A. Mustofa Bisri di akun twitter beliau, @gusmusgusmu semoga bermanfaat... aamiiin... 

1/ Mumpung ada kesempatan, aku ingin sedikit menambah-lanjutkan kicauanku ttg #DOA tempo hari. Kaitannya dengan MUNÃJÃT dan ISTIGHÃTSAH.

2/ Sebenarnya #DOA, MUNÃJÃT, dan ISTIGHÃTSAH hampir sama. Sama2 MATUR atau bersembah kepada Allah. Bedanya, kalau MUNÃJÃT tidak sekedar.

3/ memohon. Semacam percakapan rahasia kepada Tuhan. Ada pernyataan dan pengaduan. Sedangkan bedanya ISTIGHÃTSAH dengan #DOA, ISTIGHÃTSAH

4/ ialah #DOA khusus meminta pertolongan. Jadi doa lebih umum. MUNÃJÃT dan ISTIGHÃTSAH biasanya menggunakan ILÃHÏ atau YÃ ILÃHÏ…

5/ yg terkesan lebih ‘pribadi’. Sementara #DOA menggunakan ALLAHUMMA atau YA RABBANÃ. Tapi ini tidak selalu begitu.

6/ Kadang2 #DOA juga menggunakan ILÃHÏ atau YÃ ILÃHÏ dan sebaliknya munãjãt dan istighãtsah menggunakan ALLÃHUMMA atau RABBANÃ.

7/ Kalangan sufi, lebih sering bermunãjãt katimbang melangitkan #DOA biasa. Contoh munajat mrk: “Ilãhï Anta maqsüdÏ waridhãKa mathlübï.”

8/”Tuhanku, Engkaulah tujuanku. RidhaMulah yg kucari.” Atau munãjãt Syeikh Ibn Athaillah As-Sakandary, “IlãhÏ mã aqrabaKa minnï … #DOA

9/ wamã ab’adanï minKa” #DOA “Tuhanku, alangkah dekatnya Engkau dariku dan alangkah jauhnya aku dariMu.” Dan munãjãt sangat masyhur…

10/ yg di-sebut2 sebagai munãjãt Penyair Anggur Abu Nuwas: “Ilahï lastu lilFirdausi ahlan walã aqwa ‘alan Nãril Jahïmi…. #DOA

11/ fahab lï taubatan waghfir dzunübï fainnaKa Ghãfurudz-dzanbil ‘azhïmi.” #DOA “Tuhanku, aku tidak pantas berada di sorga Firdaus …

12/ dan tidak tahan api neraka Jahim; maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa2ku. Engkaulah Pengampun dosa2 besar.” #DOA

13/ Munãjãt wanita suci Basrah, Rãbi’ah ‘Adawiyah a.l: “Ilãhï ij’alil Jannata liahibbãiKa wan-Naara lia’dãiKa Ammã anã fahasbï Anta.” #DOA

14/“Tuhanku, biarlah Engkau jadikan sorga untuk para kekasihMu dan neraka untuk musuh2Mu, bagiku cukuplah Dikau semata. #DOA

15/ Bahkan munãjãt Sayyidina Ali k.w ada yang panjang dan indah yang antara lain menyatakan “Ilãhï lain jammat wajallat khathïatï… #DOA

16/ fa’afwuKa ‘an dzanbï ajallu waausa’u” #DOA “Tuhanku, kalau pun kesalahanku segunung, pengampunanMu atas dosaku lebih luas dan agung.”

17/ #DOA Munãjãt Rasulullah saw yg terkenal: “Ilãhï in lam yakun biKa ghadhabun ‘alayya falã ubãlï.” yg disampaikan saat menerima cobaan..

18/ berat dari kaumnya. “Tuhanku, asal Engkau tdk murka kepadaku, aku tak peduli”, bnyk ditirukan oleh para sufi, antara lain Rabi’ah.” #DOA

19/ Rasulullah saw pernah melangitkan #DOA munãjat dan istighãtsah yg dahsyat menjelang perang Badar: “Ilãhï in syi’Ta lam tu’bad.”

20/ “Tuhanku, kalau Engkau menghendaki, Engkau tak akan disembah orang.” Pasukan Rasulullah saw hanya 300 org harus melawan 1000 musuh. #DOA

21/ Sebenarnya masih banyak #DOA munãjat dan istighãtsah oleh para tokoh spiritual yang lain, tapi nantilah bila ada kesempatan lagi.


sumber: @gusmusgusmu

lihat juga di storify

Thursday, October 25, 2012

#DOA di timeline @gusmusgusmu

KH Musthofa Bisri Rembang
sumber: twitter.com/gusmusgusmu
sekadar menyimpan kultwit KH Musthofa Bisri Rembang di akun twitter beliau, @gusmusgusmu semoga bermanfaat... aamiiin...

1/ Al-wa’du dainun, Janji itu utang. Aku pernah janji, jika sempat akan ngetwit tentang #DOA. Ini mumpung ada kesempatan.. Bismillah.

2/ Sebagai hamba, apakah sebaiknya kita memanjatkan #DOA memohon kepada Tuhan atau tidak? Ulama dari dulu berbeda pendapat.

3/ Sebagian mereka berpendapat memanjatkan #DOA itu tidak perlu. Untuk apa kita memohon kepada Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu?

Thursday, July 26, 2012

Niyyato, tsumma istaqim!

Selepas sahur hari kedua Ramadlan kemarin, aku tergoda untuk menikmati jamaah Sholat Shubuh di masjid pondok. Yah, namanya juga mumpung Ramadlan... hehehe.... Malu juga rasanya selalu menjadi "penumpang gelap Ramadlan" yang sukanya hanya duduk manis tau-tau lebaran [meminjam kosakata Bung Zamzami al-Makki]. Hehehe....

Aku pun segera beranjak ke masjid pondok dan selanjutnya berjuang keras untuk tenggelam dalam syahdu.

***

Singkat kata, salam menutup rangkaian shalat jamaah yang dipimpin langsung oleh beliau, Romo Kiyai Haji Zainal Abidin Munawwir. Untaian dzikir demi dzikir melantun penuh makna dari lisan beliau, dan diamini oleh para makmum yang berjejal memadati masjid. Namun, perlahan-lahan semuanya mulai terdengar lamat-lamat di telingaku. Hehehe... bagi Anda yang menduga bahwa aku tertidur, aku beri jempol atas benarnya dugaan Anda itu. :P

Tuesday, July 10, 2012

Mutiara-mutiara Hikmah Mauidhoh As Syaikh Dr. Muhammad Syarif As Showwaf

Mutiara-mutiara Hikmah Mauidhoh As Syaikh Dr. Muhammad Syarif As Showwaf
posted by rikhsan nurhadian suhandi | Jum'at 2012-05-25

http://www.almunawwir.com/index.php/images/view_s/149

AD-DAHRU FI HIMAMY!

Uraian Hikmah Syaikh Syarif As-Showwaf di Serambi

Masjid Al-Munawwir Krapyak

Ka Az-Zahri fi Tarofin wa Al-Badri fi Syarofin # wa Al-Bahri fi Karomin wa Ad-Dahri fi Himami

Thursday, April 26, 2012

Tawassuth, Tawadzun dan I’tidal

sumber: PWNU DIY 2012
Pada bulan Ramadhan 1431 H atau 2009 M, KH Ahmad Ishomuddin, yang kini menjadi Rois Syuriah PBNU termuda, diminta oleh sebuah surat kabar di Lampung untuk mengisi sebuah kolom di surat kabar tersebut terkait dengan masalah-masalah fiqih Ramadhan.

Suatu hari, ada seorang tamu yang datang ke rumah beliau dan “iseng” menanyakan perihal penggunaan sirene sebagai alat bantu yang menandakan tibanya waktu imsak yang memang banyak dipergunakan di daerah Sumatera. 

Lantas, Ishomuddin pun menjawab pertanyaan tersebut melalui kolom di surat kabar yang ia ampu. Di dalam tulisan di kolom tersebut, ia menyimpulkan—dengan dalil dan hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan—bahwa hukum membunyikan sirene sebagai pertanda waktu imsak adalah mubah atau boleh.

Ternyata, tidak semua orang mampu dan bersedia menerima jawaban tersebut. Nyatanya, pada hari di mana surat kabar menerbitkan tulisan tersebut, Ishomuddin menerima sebuah pesan singkat atau SMS di ponselnya yang berisikan sebuah peringatan: “Sebagai seorang kyai, Anda jangan menebarkan dan mengajarkan bid’ah. Karena, jika menggunakan sirene sebagai tanda imsak merupakan perbuatan baik, niscaya yang pertama kali menggunakan sirene sebagai tanda imsak adalah Rasulullah SAW, dan beliaulah yang pertama kali memerintahkannya kepada para sahabat. (Sekadar memberi peringatan!!!)”

Menerima SMS sedemikian, Ishomuddin pun berpikir untuk memberikan jawaban SMS yang simbang, tidak kurang dan tidak lebih—sesuai prinsip tawassuth, tawadzun dan i’tidal khas NU. Dan pada akhirnya, jawaban yang ia berikan berbunyi berikut: “Jika mengirimkan peringatan melalui SMS merupakan sebuah perbuatan baik, niscaya Rasulullah SAW adalah orang pertama yang mengirimkan peringatan melalui SMS kepada para sahabat. (Sekadar memberikan jawaban!!!)”

:)

Disarikan dari Sambutan KH Ahmad Ishomuddin dalam acara “Silaturrahim PBNU dengan Keluarga Besar NU DIY” di Gedung Bapendan Wonokromo Bantul pada tanggal 15 April 2012.

Tuesday, January 24, 2012

Amin...

‎.ada sebuah doa
yang seminggu sekali
kita panjatkan bersama
saat upacara bendera..

"ya Allah, ya Tuhan kami
jauhkanlah kami
dari jiwa yang tidak tenang
dan dari hati
yang tidak khusyu'
(layu, kering dan tidak tunduk..)

bertahun-tahun
doa itu kita panjatkan
dan kita aminkan bersama-sama..
tapi, kenapa masih ada
selimut kabut resah gelisah
binti gundah gulana
bin galau..???

Thursday, January 5, 2012

Membayangkan Abu Nawas

oleh Muhammad Yusuf Anas pada 6 Juli 2011 pukul 23:00


sujudku tidak akan bisa menambah keagungan-Mu....
dan dosaku pun tak pula akan mampu mengurangi kesucian-Mu....

Ilahiy... terkadang aku membayangkan siapa gerangan Abu Nawas itu, dan mengharap apa yang beliau harap melalui syairnya....
aku tak pantas di surga-Mu, namun tak pula kuat diri ini atas siksa di neraka....
meskipun dosa-dosaku banyak sekali, tapi sungguh aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih banyak dan mencukupi....
kalau yang berharap kepada-Mu hanya orang yang baik saja, lantas kepada siapa orang yang jahat ini akan berlindung dan memohon keselamatan?!
aku memohon kepada-Mu dengan menundukkan diri sepertimana Engkau telah memerintahkannya, sedang apabila Engkau tetap menolak permohonanku, maka siapa lagi yang akan mengasihiku?!
aku tidak punya sarana kepada-Mu kecuali sekedar harapan dan anggapan baikku, dan bahwa aku adalah seorang yang menyerahkan diri (kepada-Mu)....
[sumber: Syair Pertaubatan Abu Nawas oleh Kyai Hilmy Muhammad]

Monday, August 1, 2011

Nasehat Ramadlan Gus Mus via akun twitter @gusmusgusmu












Teman2, ini adalah sebuah catatan yang murni saya salin dari tweet KH. A. Mustofa Bisri di akun twitter beliau dg alamat @gusmusgusmu....

Dan sekedar usaha untuk mempermudah teman2 membacanya, berikut adalah editan ngawurku terhadap tweet Simbah Kakung tersebut.

Ngapuntene lan maturnuwun sakderenge Mbah Kakung...

Sunday, March 13, 2011

Proses vs Hasil Akhir


oleh Muhammad Yusuf Anas pada 12 September 2010 jam 12:34

“Lupakan masa lalu agar kau punya masa depan,” ujarnya.

“Bagaimana mungkin aku melupakan masa lalu, sementara manusia adalah produk dari masa lalu?” tanyaku.

Do whatever it takes! Sebab, hanya dengan begitulah kau akan mampu melangkah ringan menuju cakrawala tak berbatas di masa depan

Proses vs Hasil Akhir Part II


oleh Muhammad Yusuf Anas pada 17 September 2010 jam 22:25

Aku hanya bisa termenung saat satu per satu sahabat pergi menapak jalan hidup mereka masing-masing; yang tidak lagi menyertakan keberadaan fisik mereka di sisiku. Hanya ada setangkup harap dalam hatiku yang mengiringi langkah kaki mereka: semoga aku tetap mampu menyimpan mereka dalam ingatanku. Kini, aku bisa ikut merasa bangga saat menyaksikan sebagian besar dari mereka sudah menjadi ‘orang’

Tuesday, February 22, 2011

Beberapa Wasiat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

The Sombrero Galaxy taken from Hubble
sumber: google.com
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinlah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu: “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”



Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”



Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dari pada aku, tentu dia lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu: “Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu: “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal saleh, sementara bisa jadi di akhir usiaku, aku justru kufur dan berbuat buruk.”



Semoga ALLAH SWT menetapkan iman kita....

Semoga bermanfaat....



[Dikutip dari catatan Lukman Hakim berjudul Sayyidina Ali berkata]

Wednesday, February 16, 2011

Bukan Proses dan Hasil Akhir Part III

Kau menganggap dirimu miskin? Pikirkan lagi. Pendapatanmu tak jelas karena memang pekerjaanmu sendiri tak jelas. Dalam sehari kau makan hanya satu kali. Itu pun hanya dengan sambal terasi. Walau kadang diselingi telur dadar yang bercampur teri. Aku bisa merasakan pahitnya keadaanmu di ujung lidahku. Dan wajarlah jika kau menganggap dirimu miskin.

Tapi, pernahkah kau menghitung kemiskinanmu itu? Dalam sehari kau harus mengeluarkan tiga ribu rupiah untuk makan bersama istri dan dua anakmu. Dalam sebulan pengeluaranmu itu saja sudah berjumlah 90 ribu rupiah. Dan sudah berapa lama kau telah menjalani hal ini? Anggap saja ini sudah berlangsung selama empat tahun. Empat juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Itu baru untuk perutmu saja. Belum untuk membeli pakaian yang mungkin hanya satu stel dalam setahun. Kalau satu stel pakaian berharga 150 ribu rupiah, maka kau membutuhkan 600 ribu rupiah untuk 4 stel. Dalam empat tahun jumlah itu berubah menjadi dua juta empat ratus ribu rupiah. Artinya, kebutuhan sandang dan panganmu selama empat tahun sudah menghabiskan enam juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah. Uang yang banyak. Belum lagi untuk biaya kontrakan yang berjumlah tiga juta per tahun. 12 juta untuk empat tahun. Delapan belas juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah. Dan kau masih menganggap dirimu miskin?

Pernahkah kau membayangkan jika keadaanmu bisa saja sama persis dengan seorang lain di sekitarmu atau mungkin bahkan di belahan lain dunia ini? Aku rasa kau tidak pernah melakukannya. Apa lagi untuk memikirkan seseorang yang keadaannya yang tidak seberuntung dirimu. Ya, kan? Aku yakin kau lebih suka menghabiskan waktumu memikirkan keadaan seseorang (atau mungkin lebih dari seorang) yang menurutmu jauh lebih beruntung darimu. Mungkin seorang PNS dengan gaji lima juta rupiah per bulan yang istrinya juga adalah seorang abdi negara bergaji empat juta sebulan.

Haha!

Jangan terjebak, kawan.

Berkacalah pada apa yang terjadi pada Ayyub AS saat ia hanya tinggal tulang-belulang dengan lidah dan hati.

Seribu Kelereng


Beberapa minggu yang lalu, saya menyeret kaki saya ke basement dengan secangkir kopi panas di satu tangan, dan surat kabar baru di tangan yang lain. Apa yang tadinya hanya merupakan hari Sabtu pagi biasa ternyata berubah menjadi sebuah pelajaran yang luar biasa penting bagi saya.


Selanjutnya saya memutar-mutar frekuensi radio dengan tujuan untuk mendengarkan sebuah acara hiburan Sabtu pagi yang menyenangkan. Akhirnya saya mendengar sebuah suara tua yang penuh wibawa berbicara melalui telepon. Orang yang sudah berumur tersebut sedang menyampaikan sebuah teori kepada penyiar yang menemaninya berbicara ~sebuah teori tentang seribu kelereng.


Entah kenapa, saya memilih untuk mendengarkannya. Orangtua itu berkata, “Baiklah, Tom (si penyiar radio). Tampaknya Anda sibuk dengan pekerjaan yang Anda miliki. Saya yakin pekerjaan itu memberikan bayaran yang layak untuk Anda, tapi patut disayangkan betapa pekerjaan itu telah membuat Anda harus berada jauh dari keluarga. Sayang sekali Anda tidak bisa menyaksikan pertunjukan tari putri Anda di sekolah.” Ada jeda sejenak. Jelas sekali Tom tidak bisa membantah pernyataan tersebut. “Tom, izinkan saya menyampaikan sesuatu kepada Anda... sesuatu yang sudah membantu saya menjaga sebuah perspektif terhadap prioritas-prioritas yang saya miliki. Saya menyebutnya dengan teori seribu kelereng.


“Begini, suatu saat saya duduk dan melakukan sedikit perkalian matematika. Sebagaimana yang kita ketahui, usia rata-rata manusia adalah tujuhpuluh lima tahun. Kemudian saya mengalikan 75 dengan 52 dan hasilnya adalah 3900, yang merupakan jumlah dari hari Sabtu yang ada di sepanjang rata-rata usia manusia. Sekarang, dengarkan saya Tom. Saya akan menyampaikan bagian yang terpenting.


“Ketika saya memikirkan hal ini secara detail, saya sudah menginjak usia limapuluh lima tahun... artinya, saya sudah menjalani sekitar 2800 hari Sabtu. Saya jadi berpikir, jika memang saya berkesempatan untuk hidup selama tujuhpuluh lima tahun, maka hanya ada sekitar seribu hari Sabtu lagi yang bisa saya nikmati. Jadi, saya mendatangi toko mainan dan membeli semua kelereng yang mereka punya. Bahkan, saya harus mengunjungi tiga buah toko untuk bisa membulatkan jumlah seribu kelereng. Saya membawa seribu butir kelereng itu pulang ke rumah dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah plastik yang cukup besar. Sejak saat itu, setiap hari Sabtu, saya mengambil satu kelereng dan membuangnya. Ketika menyaksikan berkurangnya kelereng-kelereng tersebut, saya menyadari bahwa saya cenderung memfokuskan perhatian saya pada hal yang benar-benar penting dalam hidup saya. Tak ada hal terbaik yang bisa membantu Anda meluruskan prioritas-prioritas Anda selain menjadi saksi dari berkurangnya waktu Anda di muka bumi ini.


“Sekarang, izinkan saya menyampaikan satu hal lagi sebelum saya menutup telepon dan mengajak istri saya sarapan. Pagi ini, saya baru saja mengambil satu kelereng terakhir dari wadah plastik yang saya sebutkan tadi. Saya berpikir, jika saya masih bisa menikmati hari Sabtu depan, itu artinya saya mendapatkan sedikit waktu ekstra. Dan, sedikit waktu ekstra adalah sebuah kesempatan yang kita semua bisa manfaatkan. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Tom. Saya harap Anda bisa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga Anda.”


Kemudian, ia menutup telepon. Hening sekali suasana di sekitar saya waktu itu. Saya kira orang tersebut baru saja memberikan banyak sekali bahan yang bisa kita pikirkan. Tadinya, saya berencana untuk memperbaiki antena, kemudian merapikan e-mail dari kantor... tapi saya memilih untuk merubah rencana saya. Sebaliknya, saya menaiki tangga menuju kamar tidur dan membangunkan istri saya yang cantik dengan sebuah kecupan hangat.

“Bangun, sayang. Aku akan membuat sarapan untukmu dan anak-anak.”

“Ada apa sih?” bidadari itu bertanya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.

“Tidak. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja sudah lama sekali kita tidak menikmati hari Sabtu bersama anak-anak.”


Hening sejenak.

By the way, bisakah kita mampir di toko mainan saat kita keluar nanti? Aku perlu membeli beberapa butir kelereng.”

____________
Diambil dan diterjemahkan dari Dr. Tim Elmore, Nurturing The Leader Within Your Child, Thomas Nelson Publishers, 2001. 

(Edisi Bahasa Indonesia: Elmore, Bagaimana Mengasah & Mengukuhkan Jiwa Kepemimpinan dalam Diri Anak-anak Anda, Garailmu, Jogjakarta, Maret 2010)

lihat juga: