Menu

Showing posts with label leadership. Show all posts
Showing posts with label leadership. Show all posts

Wednesday, November 19, 2014

Rezeki dan Ikhtiar

Orang bijak mengajarkan, “Di saat kau bertanya-tanya dalam ketaktahuan akan di mana keberadaan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu tahu pasti di mana kau berada. Dari langit, laut, gunung ataupun lembah, Rabb memerintahkannya menujumu. Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Maka, melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Tugas kita bukan mengkhawatirkan rezeki, atau bermuluk cita memilikinya. Tugas kita adalah menyiapkan jawaban ‘dari mana’ dan ‘untuk apa’ bagi setiap karunia.”

Tuesday, November 6, 2012

Mengelola #konflik dengan Anak bersama Mba AlissaWahid

sumber: google.com
Mengumpulkan pesan2 Mba Alissa Wahid, seorang psikolog keluarga, yang sedikit berbagi hal-hal praktis dan penting dalam mengelola konflik orangtua dengan anak.
Namanya juga belajar dan berbagi. Hehe. Walaupun saya sadar, sayalah orang yang paling membutuhkan ini... 
Semoga bermanfaat... :)

Utk malam ini, bagaimana kalau kita bahas menggunakan #konflik dengan anak sbg proses perkembangan? 

#konflik dg anak itu sesuatu yg tak terelakkan, bahkan (smp tingkat tertentu) jd penanda hubungan yg sehat dlm keluarga. 

Kalau orangtua tdk pernah #konflik dg anak, justru tanda bahaya. Bisa jadi, anak tertekan oleh dominasi orangtua tuh. 

Friday, February 10, 2012

Bidadari itu Dibawa Jibril: Sebuah Cerpen Gus Mus

Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen)
29 Oktober 2009 10:26:29 
Oleh: A. Mustofa Bisri

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.

Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"

Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.

Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*

Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.

Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?

"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.

"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.

Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!

"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.

"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?

"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.

"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.

"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.

"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.

Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.

Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.

"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?

"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.

"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.

"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?! 

"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.

Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.

"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.

***Rembang, Akhir Ramadan 1423

Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003
 
sumber: GusMus.net

Monday, January 9, 2012

Generasi Rabun Membaca, Pincang Menulis! (mengutip beliau, Taufiq Ismail)

DARI PASAR DJOHAR KE DJALAN KEDJAKSAAN
 oleh: Taufiq Ismail

sumber foto: google.com
[Seminar Nasional Pengembangan Model Pembelajaran Sastra yang Komunikatif dan Kreatif, Universitas Negeri Semarang, Ahad, 7 Juni 2009]
Sekolah saya berpindah-pindah, sejak Sekolah Rakjat (sekarang SD) sampai dengan SMA. SR saya di Solo, Semarang, Salatiga, Yogya, SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, Pekalongan dan Whitefish Bay, Wisconsin. Pertumbuhan diri saya berlangsung di delapan kota itu, dan masing-masing kota itu memberi kenangan indah tersendiri.
Kedua orangtua saya guru di Pekalongan di masa penjajahan Belanda. Mulai zaman pendudukan Jepang ayah saya jadi wartawan di Semarang, di harian Sinar Baroe (belakangan menjadi Suara Merdeka). Saya belajar di Sekolah Rakjat Indonesia di Bergota, rumah kami di Redjosari Gang I nomor 6. Ayah dan ibu suka membaca. Lemari buku ayah saya besar. Biasanya sekali sebulan saya dibawa ke toko buku di Pasar Djohar, dibonceng naik sepeda. Ikut ayah yang membeli buku, saya boleh memilih dua buku untuk dibawa pulang. Pada umur masih kecil begitu saya sudah mulai membaca roman Tak Putus Dirundung Malang, karya St. Takdir Alisjahbana.
Ketika masih pelajar SMP Negeri 1 di Bukittinggi, dan SMA Negeri Pekalongan pada tahun 1950-an, di kedua sekolah saya itu tidak ada perpustakaan. Karena suka membaca, saya jadi anggota Perpustakaan Kota, di Bukittinggi di Jalan Lurus, di Pekalongan di Kali Loji. Kedua-duanya dekat dari sekolah.
Sangat kebetulan, ketika di Pekalongan, Djawatan Pendidikan Masjarakat memberikan kepercayaan kepada beberapa LSM, untuk masing-masing mengelola sebuah perpustakaan kecil. Kepada Peladjar Islam Indonesia, diserahkan kl 300 judul buku. Karena beranda rumah orangtua saya besar di Djalan Kedjaksan 52, PII menaruhnya di sana dalam sebuah lemari. Saya dan S.N. Ratmana mengelola perpustakaan yang dibuka sehari seminggu, tiap hari Ahad pagi sampai sore itu.
Kawan-kawan di sekolah yang suka membaca, datang meminjam buku. Favorit saya buku-buku petualangan Winnetou karangan Karl May. Lalu puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, cerpen Idrus, Pramudya Ananta Tur, antologi Gema Tanah Air H.B. Jassin, novel Hamka, Takdir Alisjahbana, Abdul Muis, dan seterusnya. Puisi Dunia, terjemahan Taslim Ali, 2 jilid sangat saya sukai.
Karena kunci lemari buku saya yang memegang, dan lemari itu terletak di beranda rumah, saya leluasa betul membaca buku dari hari Senin sampai Sabtu. Saya membaca agak sembarangan. Misalnya tuntunan bertanam anggrek Sutan Sanif dan prosedur mengecor beton bertulang Prof. Rooseno pun saya baca. Buku Pak Rooseno yang merupakan buku teks mahasiswa fakultas teknik itu saya bawa-bawa ke sekolah, dilagak-lagakkan kepada teman-teman. Mereka heran. “Kau baca buku itu?” “Ya.” “Tamat?” “Ya.” “Apa isinya?” “’Nggak ‘ngerti.” Mereka pun batal, tak jadi kagum.
Beberapa kawan yang gemar membaca ini terdorong pula menulis. Kami penggemar majalah Mimbar Indonesia dan Kisah, yang memuat sajak dan cerpen. Pak H.B. Jassin duduk sebagai redaktur sastra di kedua majalah tersebut. Kami berlomba-lomba mengirim karangan ke sana. Lima orang berhasil menembus kedua majalah itu. Muhsin Djalaludin Zuhdy (sajak), Hadi Utomo (cerpen), Sukamto A.G. (sajak), S.N. Ratmana (cerpen) dan saya (sajak). Yang bertahan terus menulis sampai sekarang adalah dua orang yang terakhir ini.
Pada masa bersamaan Ajip Rosidi (Jakarta), W.S. Rendra (Solo), Motinggo Busye (Bukittinggi), Alwi Dahlan (Bukittinggi), Suwardi Idris (Bukittinggi), Nh. Dini (Semarang), S.M. Ardan (Jakarta) juga mulai menulis ketika masih jadi pelajar SMA. Bahkan Ajip dan Busye sudah mencuri start ketika masih di SMP.
Kami menulis karena dirangsang bacaan. Buku dan majalah memberi stimulasi besar untuk mengarang. Buku yang kami baca tidak dari perpustakaan sekolah. Karangan yang kami tulis bukan karena dibimbing guru mengarang di kelas bahasa. Guru Bahasa Indonesia saya di SMA Pekalongan lebih mengajarkan tatabahasa dan tak ada perhatian pada pelajaran mengarang. Kami kebetulan saja senang perpustakaan. Kebetulan pula bersaing-saing sesama teman, sehingga berlatih menulis sendiri tanpa dibimbing guru.
Beratus-ribu tamatan SMA Indonesia sejak pengakuan kedaulatan 1950 sampai sekarang menjadi Generasi Nol Buku, yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Nol Buku karena tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah, sehingga rabun membaca. Lumpuh menulis karena hampir tak ada latihan mengarang di sekolah.
MEMBANDING DENGAN NEGARA-NEGARA LAIN
Antara Juli-Oktober 1997 saya melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan SMA 13 negara. Saya bertanya tentang 1) kewajiban membaca buku, 2) tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah, 3) bimbingan menulis dan 4) pengajaran sastra di tempat mereka. Berikut ini tabel jumlah buku sastra yang wajib dibaca selama di SMA bersangkutan (3 atau 4 tahun), yang tercantum di kurikulum, disediakan di perpustakaan sekolah, dibaca tamat lalu siswa menulis mengenainya, dan diuji:
Buku Sastra Wajib di SMA 13 Negara
Tabel 1
NO
ASAL SEKOLAH
BUKU WAJIB
NAMA SMA / KOTA
TAHUN
1
SMA Thailand Selatan
5 judul
Narathiwat
1986-1991
2
SMA Malaysia
6 judul
Kuala Kangsar
1976-1980
3
SMA Singapura
6 judul
Stamford College
1982-1983
4
SMA Brunei Darussalam
7 judul
SM Melayu I
1966-1969
5
SMA Rusia Sovyet
12 judul
Uva
1980-an
6
SMA Kanada
13 judul
Canterbury
1992-1994
7
SMA Jepang
15 judul
Urawa
1969-1972
8
SMA Internasional, Swiss
15 judul
Jenewa
1991-1994
9
SMA Jerman Barat
22 judul
Wanne-Eickel
1966-1975
10
SMA Perancis
30 judul
Pontoise
1967-1970
11
SMA Belanda
30 judul
Middleburg
1970-1973
12
SMA Amerika Serikat
32 judul
Forest Hills
1987-1989
13
AMS Hindia Belanda-A
25 judul
Yogyakarta
1939-1942
AMS Hindia Belanda-B
15 judul
Malang
1929-1932
SMA Indonesia
0 judul
Di Mana Saja
1943-2008
Catatan: Angka di atas hanya berlaku untuk SMA responden (bukan nasional), dan pada tahun-tahun dia bersekolah di situ (bukan permanen). Tapi sebagai pemotretan sesaat, angka perbandingan di atas cukup layak untuk direnungkan bersama. Apabila buku sastra 1) tak disebut di kurikulum, 2) dibaca cuma ringkasannya, 3) siswa tak menulis mengenainya, 4) tidak ada di perpustakaan sekolah, dan 5) tidak diujikan, dianggap nol. Angka nol buku untuk SMA Indonesia sudah berlaku 65 tahun lamanya, dengan kekecualian luarbiasa sedikit pada beberapa SMA tertentu saja.
Bila siswa AMS Hindia Belanda wajib membaca buku 25 judul dalam masa 3 tahun, bagaimanakah wajib menulis mereka?
Siswa AMS wajib menulis 1 karangan seminggu. Karangan disetor, diperiksa guru, diberi angka, minggu depannya satu karangan lagi, minggu depannya satu karangan lagi. Panjang karangan satu halaman. Jumlahnya 18 karangan satu semester, 36 karangan setahun, 108 karangan 3 tahun.
Menurut observasi saya pada beberapa SMA, kewajiban mengarang berlangsung 3-5 kali setahun. Banyak SMA yang cuma sekali setahun, mirip sholat Idulfitri. Jadi dalam 3 tahun paling banyak 15 karangan. Dibanding dengan AMS, jatuhnya serendah 5,2 %. Tabel berikutnya:
Tabel 2
No
SEKOLAH MENENGAH ATAS
WAJIB BACA BUKU (TIGA TAHUN)
WAJIB MENULIS KARANGAN (TIGA TAHUN)
1
HINDIA BELANDA
25 JUDUL BUKU
108 KARANGAN
2
REPUBLIK INDONESIA
NOL BUKU
3 – 15 KARANGAN
Tabel 3
TUGAS MENULIS SISWA AMS HINDIA BELANDA
TUGAS MENULIS SISWA MALAYSIA (SMA KOLEJ MELAYU)
TUGAS MEMBACA BUKU SISWA SMA AMERIKA SERIKAT
1 KARANGAN / MINGGU
14 HALAMAN KETIK / MINGGU
44 HALAMAN / MINGGU
36 KARANGAN / TAHUN
504 HALAMAN KETIK / TAHUN
1584 HALAMAN / TAHUN
108 KARANGAN / 3 TAHUN
2016 HALAMAN KETIK / 4 TAHUN
6336 HALAMAN / 4 TAHUN
Tabel 4
PERBANDINGAN LIMA KOMPONEN kelas 9 – 12 (S MA AS 4 tahun), di 1210 SMA, 1989
1
SASTRA
50 %
2
MENGARANG
28 %
3
TATABAHASA
10 %
4
BICARA
9 %
5
LAIN-LAIN
3 %
(Arthur Applebee, Literature in the Secondary Schools -- Studies of Curriculum and Instruction in the United States, National Council of Teachers of English, Urbana, Illinois, 1993. Angka-angka merupakan hasil penelitian Applebee di 1210 SMA, 1989).
BILAKAH MUSIBAH BESAR NOL BUKU & 15 KARANGAN, YANG DULU 25 BUKU & 108 KARANGAN ITU BERMULANYA?
Tragedi Nol Buku ini berlangsung pada awal 1950. Ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri, demi mengejar ketertinggalan sebagai bekas negara jajahan, yang mesti membangun jalan raya, bangunan, rumah sakit, jembatan, pertanian, perkebunan, kesehatan, perekonomian, maka yang diunggulkan dan disanjung adalah jurusan eksakta (teknik, kedokteran, pertanian, farmasi), ekonomi dan hukum.
Wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis, karena dipandang tidak perlu. Ini kesalahan peradaban luar biasa besar. Ketika saya perlihatkan hasil observasi (dalam tabel) itu kepada Menteri Wardiman Djojonegoro (1997), beliau terkejut. “Sudah demikian burukkah keadaannya?” tanyanya. “Ya,” jawab saya.
APA TUJUAN MEMBACA 25 BUKU DAN MENULIS 108 KARANGAN?
Kedua kewajiban itu tidak bertujuan menjadikan siswa sastrawan. Tidak. Kemampuan membaca dan menulis diperlukan di setiap profesi. Membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Latihan menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidangnya masing-masing.
Seorang Anak Baru Gede dari Padang pada tahun 1919 masuk sekolah SMA dagang menengah Prins Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sebaya dia, di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka ilmu politik, sosial dan nasionalisme. Insinyur teknik ini melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.
Sastra menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa jadi dewasa. Rosihan Anwar (kini 87) tetap membaca 2 buku seminggu. Buku apa saja. “Jiwa saya merasa dahaga kalau saya tak baca buku,” kata beliau. Demikianlah rasa adiksi yang positif itu bertahan lebih dari setengah abad, bahkan seumur hidup.
Latihan menulis 108 karangan membekali Hatta, Sukarno, Muhammad Natsir, Sjahrir, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, Tan Malaka dan kawan-kawan seangkatan mereka menulis buku di bidang masing-masing. Yamin jadi sastrawan, tapi juga penulis sejarah.
Tragedi Nol Buku ini, yang sudah berlangsung 65 tahun lamanya, dengan mudah dapat dijelaskan kini akibatnya. Tamatan SMA Nol Buku sejak 1950 (saya tak sempat menghitung dengan teliti tapi pastilah meliputi beberapa juta orang), dengan rentang umur antara 35 – 70 tahun, mereka inilah yang kini jadi warga Indonesia terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara hari ini di seluruh strata, pemerintah dan swasta. Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia sekarang, mungkin sekali karena dalam fase pertumbuhan intelektual mereka, orang-orang itu membaca nol buku di sekolah.
Mereka Generasi Nol Buku. Kita Generasi Nol Buku. Generasi yang Rabun Membaca dan Pincang Menulis. Kalau pun ada sebagian kecil dari kita yang banyak membaca dan mampu menulis, pasti itu dilakukan dengan ikhtiar sendiri di luar ruang sekolah (bukan dibimbing oleh sebuah sistem pendidikan nasional) atau karena beruntung mendapat kesempatan belajar ke luar negeri.
DENGAN SANGAT SEDIKIT KEKECUALIAN, KITA SEMUA BERBEKAL NOL BUKU KETIKA BERSEKOLAH, TIDAK MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK DITANAMKAN RASA KETAGIHAN MEMBACA BUKU, KECINTAAN PADA BUKU, KEINGINAN BERTANYA KEPADA BUKU DALAM SEMUA ASPEK KEHIDUPAN DAN KEBIASAAN MENGUNJUNGI PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT MERUJUK SUMBER ILMU, DAN KONSEKWENSINYA MEMBIASAKAN MENULIS SEBAGAI EKSPRESI PERASAAN SERTA PERNYATAAN KECENDEKIAAN.
Agaknya kita mengabaikan firman Allah paling awal yang diturunkan ke bumi, yaitu Kata paling nomor satu berupa
perintah membaca kepada seluruh ummat manusia,
dan mengajarkan penggunaan pena untuk menulis.
Kita tidak cerdas menafsirkannya dan kita sangat terlambat di Indonesia memperbaikinya.
Dalam mendiskusikan pengajaran sastra yang apresiatif dan kreatif, sebagaimana tujuan majelis kita ini, maka mari kita perbaiki bersama pengajaran membaca dan menulis di lembaga pendidikan kita, sejak dari SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi.
CARA PANDANG (PARADIGMA) BARU DALAM MENGAJARKAN SASTRA
Untuk meletakkan dasar yang kuat suatu program kegiatan mengatasi keterbelakangan kita, maka tentulah lebih dahulu ditetapkan cara pandang, paradigma baru sebagai acuan dalam membantu memperbaiki pengajaran membaca, mengarang dan apresiasi sastra di SMA kita. Ko-insidensi sangat menguntungkan yang terjadi adalah gelombang reformasi 1998, yang melepaskan Indonesia dari monolithisme politik 39 tahun Orde Lama dan Orde Baru, sehingga terbuka luaslah peluang bagi paradigma ini, yang tidak akan mungkin terbuka di kedua Orde terdahulu tersebut:
1. Siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik, nikmat dan gembira.
Pendekatannya bukan pendekatan keilmuan seperti memahami fisika, dan juga bukan pendekatan penghafalan seperti penghafalan tahun-tahun sejarah. Kita harus mampu membentuk citra sastra di hati siswa sebagai sesuatu yang menyenangkan, yang membuat mereka antusias, dan yang mereka rasa perlukan.
2. Siswa membaca langsung karya sastra puisi, cerita pendek, novel, drama dan esai, bukan melalui ringkasan. Karena itu, buku-buku yang disebut dalam kurikulum, mesti tersedia di perpustakaan sekolah.
3. Kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan, sehingga tidak terasa jadi beban, baik bagi siswa, maupun untuk guru. Mengarang mesti dirasakan sebagai ekspresi diri yang melegakan perasaan. Kiat atau metodanya harus ditemukan, dan itu sudah ditemukan, serta dipraktekkan 3 tahun dalam pelatihan MMAS. Cara kuno memberi judul klise seperti “Cita-citaku” atau “Pengalaman Berlibur di Rumah Nenek” mesti diganti dengan imajinasi yang kaya, yang sesuai dengan fantasi siswa. Mengarang bukan cuma menulis laporan, tapi menggugah imajinasi dan menuntun siswa berfikir.
4. Ketika membicarakan karya sastra, aneka-ragam tafsir harus dihargai. Tidak ada tafsir tunggal terhadap karya sastra. Guru harus terbuka terhadap pendapat siswa yang berbeda, sepanjang pendapat itu dikemukakan dalam disiplin berfikir yang logis. Dalam hal ini kelas sastra adalah kelas pendidikan demokrasi, ketika antara umur 16-19 tahun siswa mulai diperkenalkan kepada perbedaan pendapat dan belajar menghargai pendapat yang lain itu. Ebtanas dengan soal pilihan ganda untuk tafsir karya sastra adalah kekeliruan yang harus diperbaiki.
5. Pengetahuan tentang sastra (teori, definisi, sejarah) tidak utama dalam pengajaran sastra di SMU, cukup tersambil saja sebagai informasi sekunder ketika membicarakan karya sastra. Siswa jangan terus-terusan dibebani dengan hafalan teori dan definisi. Tatabahasa tidak lagi diberikan secara teoretis, tapi dicek penggunaannya dalam karangan siswa.
6. Pengajaran sastra mestilah menyemaikan nilai-nilai yang positif pada batin siswa, yang membekalinya menghadapi kenyataan kehidupan masa kini yang keras di masyarakat. Keimanan, kejujuran, ketertiban, pengorbanan, demokrasi, tanggung-jawab, pengendalian diri, kebersamaan, penghargaan pada nyawa manusia, optimisme, kerja keras, keberanian mengubah nasib --- adalah antara lain nilai-nilai luhur yang hancur di masa kini, terutama dalam 5 tahun terakhir ini. Karena itu, karya sastra yang relevan dengan nilai-nilai itulah yang harus kita pilih untuk disajikan kepada siswa, dan didiskusikan di kelas. Kemudian akan tumbuh kearifan siswa kepada manusia dan kehidupan, terasah sensitivitas estetiknya, dan terpupuk empatinya pada duka-derita nasib orang-orang yang malang.
Rangkaian cara pandang segar atau paradigma anyar ini, baru akan benar-benar tercapai maksudnya apabila ditunjang oleh kurikulum yang sejalan dan serasi dengan paradigma ini.
GERAKAN SASTRA MAJALAH HORISON, 1996 - SEKARANG
Sehubungan dengan masalah di atas, majalah sastra Horison menggerakkan enam butir kegiatan gerakan sastra, dengan sasaran dunia pendidikan, yang bertujuan meningkatkan: budaya membaca buku, kemampuan mengarang, dan apresiasi sastra. Rangkaian aktivitas tersebut adalah sebagai berikut ini:
NO
KEGIATAN
SASARAN
PENDANAAN
1
Sisipan Kakilangit
Siswa dan Guru
Majalah Sastra Horison
2
Pelatihan MMAS
Guru
Depdiknas
3
Kegiatan SBSB
Siswa dan Guru
The Ford Foundation
4
Kegiatan SBMM
Mahasiswa
The Ford Foundation
5
LMKS dan LMCP
Guru
Depdiknas
6
SSSI
Siswa
The Ford Foundation
Sisipan Kakilangit ditujukan untuk siswa SMA dan sederajat, dilaksanakan sejak 1996. Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) selama 7 hari untuk guru bahasa dan sastra SMA se-Indonesia, 1999-2008, diikuti k.l. 2.000 guru di 11 kota.
Kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) mendatangkan sastrawan ke SMA dan Pondok Pesantren, membacakan karya dan berdiskusi dengan siswa serta guru. Dalam rentang masa 2000-2008 telah dikunjungi 213 sekolah di 164 kota, 31 provinsi, oleh 113 sastrawan dan 11 aktor/aktris, bertemu dengan k.l. 100.000 siswa dan guru.
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Fakultas Bahasa & Seni menjadi sasaran kegiatan SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca), 2000-2002 di 9 universitas, dengan mendatangkan 18 sastrawan yang berbicara tentang bukunya.
Guru distimulasi mengarang dengan Lomba Mengulas Karya Sastra dan Lomba Menulis Cerita Pendek, 2000-2008, diikuti oleh sekitar 300 guru setiap tahunnya.
Untuk menampung energi kegiatan sastra siswa dibentuk 30 Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di 30 kota (sejak 2002), berbasis di SMA.
Rumah Puisi
Berdasarkan pengalaman kegiatan sekitar 10 tahun di atas, yang memancar dari ibukota ke 164 kota Indonesia, maka saya dan isteri saya Ati, bercita-cita mencoba menghimpun kegiatan tersebut di sebuah titik lokasi, diberi nama Rumah Puisi, tanpa menghentikan atau mengganti kegiatan yang sudah terselenggara sejak 1998 hingga kini itu.
Lokasi yang dipilih adalah kawasan pertemuan dua kaki gunung, yaitu Singgalang dan Merapi, yaitu Nagari Aie Angek, km 6 Jalan Raya Padang Panjang – Bukittinggi.
Mohon didoakan, semoga peningkatan budaya baca buku, kemampuan menulis dan apresiasi sastra anak bangsa tercapai, sehingga terbentuk manusia terpelajar, bermartabat dan dinaungi keteduhan ridha Ilahi. Amin.***
Jakarta, Mei 2009.
KUPU-KUPU DI DALAM BUKU
Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya
di negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya
di perpustakaan negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya
di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya
di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,
Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.
Taufiq Ismail, 1996.