Menu

Showing posts with label sufi. Show all posts
Showing posts with label sufi. Show all posts

Sunday, November 30, 2014

Sufi Senior vs Sufi Junior

"Apa sifat etika keutamaan," tanya Ibrahim Balkan (seorang sufi junior) kepada Ibrahim bin Adham (seorang sufi senior).

Dan jawaban yang ia dapat adalah, "Wa idza ruziqtu syakartu; wa idza muni'tu shabartu (Dan jikalau daku mendapatkan rizqi, maka daku akan berterimakasih; dan bilamana daku mendapati halangan hambatan, daku akan bersabar)."

Sang sufi junior merasa tidak puas. Karena jawaban itu masih berkenaan dengan etika kewajiban. Ia pun lalu menimpali, "Kalau begitu, apa bedanya saya dengan anjing di kampung saya di Balkan? Anjing di Balkan melakukan hal yang sedemikian jua."

Sang sufi senior tesentak. Kemudian balik bertanya, "Lantas, menurut tuan muda, apa etika keutamaan itu?"

Ibrahim Balkan menjawab, "Wa idza ruziqtu atsartu wa idza muni'tu syakartu (Dan apabila daku mendapatkan rizqi, maka daku akan tergugah; dan jika daku mendapati halangan hambatan, daku akan bersyukur)."

Ibrhaim bin Adham membatin, "Baru kali ini aku dikalahkan oleh seorang anak muda."

Wednesday, November 19, 2014

Rezeki dan Ikhtiar

Orang bijak mengajarkan, “Di saat kau bertanya-tanya dalam ketaktahuan akan di mana keberadaan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu tahu pasti di mana kau berada. Dari langit, laut, gunung ataupun lembah, Rabb memerintahkannya menujumu. Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Maka, melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Tugas kita bukan mengkhawatirkan rezeki, atau bermuluk cita memilikinya. Tugas kita adalah menyiapkan jawaban ‘dari mana’ dan ‘untuk apa’ bagi setiap karunia.”

Sunday, August 3, 2014

Khatib Gaul

Hmmm...
Ada komentar? :)

Di lingkungan pesantren, memakai peci saat salat seperti sebuah kewajiban. Rasanya ada yang aneh dan serasa kurang sreg melaksanakan salat tanpa peci. Santri yang kebetulan gothaannya berada di lantai tiga pun rela naik untuk mengambil pecinya demi bisa menjalankan salat jamaah di langgar dengan berpeci. Di langgar pondok hampir tidak pernah ditemui seorang berjamaah tanpa peci.

Friday, February 10, 2012

Bidadari itu Dibawa Jibril: Sebuah Cerpen Gus Mus

Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen)
29 Oktober 2009 10:26:29 
Oleh: A. Mustofa Bisri

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.

Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"

Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam, Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar dan menyeleweng dari rel agama.

Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah. Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*

Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun. Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan yang menggembirakan.

Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang, "Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?

"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.

"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.

Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!

"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.

"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana ceritanya, mas?

"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu hanya dipinjam mulutnya.

"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo, malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.

"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!" selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.

"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.

Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.

Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti khawatir.

"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?

"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.

"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka bunuh diri.

"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia yang paling banyak dosanya ya, mas?! 

"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.

Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.

"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.

***Rembang, Akhir Ramadan 1423

Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003
 
sumber: GusMus.net

Friday, January 20, 2012

pesanKhatibJumat

Enam kiat sukses dalam menghadapi tantangan hidup berdasarkan pada QS. al-Anfal ayat 45-47:
1. Meneguhkan hati,
2. Memperbanyak zikir kepada Allah,
3. Ta'at pada Allah dan Rasul-Nya,
4. Menjaga kesatuan dan persatuan,
5. Bersabar, dan
6. Hanya mengharap ridla Allah.

#pesanKhatibJumat


http://quran.com/8/45-47

Friday, January 6, 2012

renunganJumat

Lantas, apakah kalian juga tidak akan senang pada mereka hingga mereka mengikuti agama kalian?

Bukankah petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar?
Bukankah mudah bagi Allah jika Ia menghendaki kalian sebagai satu umat saja? #renunganJumat

Thursday, January 5, 2012

Membayangkan Abu Nawas

oleh Muhammad Yusuf Anas pada 6 Juli 2011 pukul 23:00


sujudku tidak akan bisa menambah keagungan-Mu....
dan dosaku pun tak pula akan mampu mengurangi kesucian-Mu....

Ilahiy... terkadang aku membayangkan siapa gerangan Abu Nawas itu, dan mengharap apa yang beliau harap melalui syairnya....
aku tak pantas di surga-Mu, namun tak pula kuat diri ini atas siksa di neraka....
meskipun dosa-dosaku banyak sekali, tapi sungguh aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih banyak dan mencukupi....
kalau yang berharap kepada-Mu hanya orang yang baik saja, lantas kepada siapa orang yang jahat ini akan berlindung dan memohon keselamatan?!
aku memohon kepada-Mu dengan menundukkan diri sepertimana Engkau telah memerintahkannya, sedang apabila Engkau tetap menolak permohonanku, maka siapa lagi yang akan mengasihiku?!
aku tidak punya sarana kepada-Mu kecuali sekedar harapan dan anggapan baikku, dan bahwa aku adalah seorang yang menyerahkan diri (kepada-Mu)....
[sumber: Syair Pertaubatan Abu Nawas oleh Kyai Hilmy Muhammad]

Monday, August 1, 2011

Nasehat Ramadlan Gus Mus via akun twitter @gusmusgusmu












Teman2, ini adalah sebuah catatan yang murni saya salin dari tweet KH. A. Mustofa Bisri di akun twitter beliau dg alamat @gusmusgusmu....

Dan sekedar usaha untuk mempermudah teman2 membacanya, berikut adalah editan ngawurku terhadap tweet Simbah Kakung tersebut.

Ngapuntene lan maturnuwun sakderenge Mbah Kakung...

Sunday, March 13, 2011

Proses vs Hasil Akhir


oleh Muhammad Yusuf Anas pada 12 September 2010 jam 12:34

“Lupakan masa lalu agar kau punya masa depan,” ujarnya.

“Bagaimana mungkin aku melupakan masa lalu, sementara manusia adalah produk dari masa lalu?” tanyaku.

Do whatever it takes! Sebab, hanya dengan begitulah kau akan mampu melangkah ringan menuju cakrawala tak berbatas di masa depan

Proses vs Hasil Akhir Part II


oleh Muhammad Yusuf Anas pada 17 September 2010 jam 22:25

Aku hanya bisa termenung saat satu per satu sahabat pergi menapak jalan hidup mereka masing-masing; yang tidak lagi menyertakan keberadaan fisik mereka di sisiku. Hanya ada setangkup harap dalam hatiku yang mengiringi langkah kaki mereka: semoga aku tetap mampu menyimpan mereka dalam ingatanku. Kini, aku bisa ikut merasa bangga saat menyaksikan sebagian besar dari mereka sudah menjadi ‘orang’

Tuesday, February 22, 2011

Beberapa Wasiat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

The Sombrero Galaxy taken from Hubble
sumber: google.com
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinlah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu: “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”



Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”



Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dari pada aku, tentu dia lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu: “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu: “Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”



Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu: “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal saleh, sementara bisa jadi di akhir usiaku, aku justru kufur dan berbuat buruk.”



Semoga ALLAH SWT menetapkan iman kita....

Semoga bermanfaat....



[Dikutip dari catatan Lukman Hakim berjudul Sayyidina Ali berkata]

Wednesday, February 16, 2011

Seorang Darwis yang Mampu Berjalan di Atas Air



Seorang darwis yang berpikiran kolot, dari sebuah aliran sufi yang sangat ketat, suatu hari sedang berjalan-jalan di pinggiran sungai. Pikirannya melayang, merenungkan berbagai masalah-masalah moral dan pendidikan, mengingat inilah bentuk ajaran sufi yang dijalankan dalam komunitas tempat ia bergabung. Ia mempersamakan ajaran tersebut sebagai sebuah pencarian Kebenaran sejati.


Tiba-tiba perenungannya terhenti oleh sebuah teriakan keras: seseorang sedang melafalkan zikir sufi seorang darwis.


“Zikir orang itu sama sekali tidak ada gunanya,” katanya dalam hati, “karena dia salah mengucapkan suku kata zikir tersebut. Bukannya melafalkan YA HU, ia justru mengulang-ulang U YA HU.”


Sebagai murid yang lebih teliti, ia merasa berkewajiban untuk membenarkan orang malang tersebut, yang barangkali belum pernah berkesempatan untuk mendapatkan tuntunan yang benar, dan karenanya bisa jadi ia hanya berusaha melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan dalam menyesuaikan diri dengan maksud di balik zikir tersebut.


Lalu si darwis pertama menyewa sebuah perahu dan berangkat menuju pulau di tengah sungai tempat asal suara itu. Di sana ia melihat seorang laki-laki sedang duduk di sebuah gubuk alang-alang, memakai jubah darwis, dan mengulang-ulang lafalannya yang keliru.


“Teman,” kata darwis pertama. “Engkau melakukan kesalahan ketika melafalkan suku kata zikir itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengatakan ini padamu, karena ada pahala bagi orang yang memberi dan menerima nasehat. Beginilah seharusnya kau melafalkannya,” lalu ia pun memberitahukan lafal zikir yang benar kepada darwis malang tersebut.


“Aku tak tahu bagaimana cara membalas budi Anda. Terima kasih,” kata si darwis kedua dengan suka cita dan penuh kerendahan hati.


Darwis pertama kembali naik ke perahu sewaannya, dan gembira karena telah melakukan sebuah kebajikan. Sepengetahuan si darwis pertama ini, ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa siapa saja yang mampu melafalkan kata-kata suci zikir tersebut dengan benar, maka orang tersebut akan mampu berjalan di atas air: sebuah peristiwa yang sama sekali belum pernah ia lihat, meskipun ~dengan alasan-alasan tertentu~ ia selalu berharap bisa mencapai tingkatan tersebut.


Sekarang, ia tidak mendengar apa-apa lagi dari gubuk alang-alang itu, akan tetapi ia yakin bahwa nasehatnya telah diterima dengan baik. Ia pun mulai mendayung perahunya untuk kembali ke seberang.


~oOo~


Tak lama berselang, tepat ketika ia berada di tengah sungai, ia kembali mendengar lafal U YA HU yang terputus-putus ketika darwis di pulau itu kembali melafalkan zikir dalam cara lafalnya yang lama.


Si darwis pertama merenungkan betapa sifat keras kepala yang dimiliki manusia bisa menjebak siapa saja dalam kesalahan. Sementara ia berpikir dan merenung, tiba-tiba ia melihat sebuah pemandangan yang amat sangat aneh. Dari arah pulau, darwis kedua sedang menuju ke arahnya, dengan berjalan di atas permukaan air!


Karena takjub, ia berhenti mendayung. Dan darwis kedua telah berada di dekatnya dan berkata, “Saudaraku, maaf kalau saya mengganggu, akan tetapi saya merasa perlu menanyakan lagi standar baku pelafalan zikir yang sudah Anda ajarkan tadi, karena ternyata saya memiliki kesulitan dalam menghapalkannya.”


[Diterjemahkan dari bagian pembuka Bab 8 dari buku Robert E. Ornstein, The Psychology of Consciousness: Revised Edition, Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1977, yang menyadur Idries Shah, Tales of the Dervishes, New York: E. P. Dutton, 1970, hal. 84-85 dan gambar diambil dari illustrasi bagian pembuka bab yang sama].

Sultan yang Menjadi Orang Buangan (Refleksi Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW)

Sultan Mesir mengumpulkan beberapa orang terpelajar dan, seperti biasanya, segera terjadi sebuah perdebatan. Pokok masalah dalam perdebatan tersebut adalah Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan bahwa pada malam suci tersebut Nabi Muhammad SAW dijemput dari tempat tidur beliau dan dibawa ke alam akhirat. Di dalam perjalanan tersebut, beliau melihat surga dan neraka, mengalami berbagai peristiwa, berkomunikasi dengan Tuhan, dan dikembalikan ke tempat tidur beliau yang masih hangat. Bahkan, guci air yang terguling saat beliau berangkat masih belum habis mengucur saat beliau kembali.


Beberapa orang berpendapat bahwa hal ini sangat mungkin terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan perhitungan waktu (antara alam ini dan alam ‘itu’). Sultan berpendapat bahwa itu tidak mungkin.

Para penasehat istana menyatakan bahwa atas kuasa Tuhan segala sesuatunya bisa saja terjadi. Pendapat ini juga tidak memuaskan keingin-tahuan Sang Sultan.


Kabar tentang perdebatan tersebut pada akhirnya sampai juga di telinga Syaikh Sufi Shahabudin, yang segera datang menghadiri majelis Sultan. Sang Sultan pun menunjukkan kerendahan hatinya pada saat Sang Syaikh menjelaskan, “Saya tidak akan menunda-nunda lagi pembuktian saya: ketahuilah bahwa kedua tafsir di atas adalah tafsir yang keliru dan saya tegaskan bahwa ada faktor-faktor yang bisa kita buktikan, dan sekaligus bisa diterima oleh ajaran kita, tanpa membuat kita terjebak dalam spekulasi yang asal-asalan atau ‘rasionalitas’ yang sempit.”


Di ruangan tersebut terdapat empat jendela. Sang Syaikh meminta seseorang untuk membuka salah satunya. Sultan melihat keluar. Nun jauh di sana, di atas gunung, tampaklah sejumlah besar pasukan yang sedang menyerang, bergerak menuruni gunung menuju istana. Sultan sangat ketakutan.

“Jangan pedulikan Yang Mulia, tidak ada apa-apa,” kata Sang Syaikh.


Ia menutup jendela tersebut dan membukanya lagi. Kali ini tak seorang prajurit pun yang tampak.

Ketika ia membuka jendela yang lain, tampak kota sedang dilalap api. Sultan menjerit panik.

“Jangan bersusah-hati, Sultan, karena sama sekali tidak ada apa-apa,” lanjut Syaikh. Ketika ia menutup dan kembali membuka jendela tersebut, tak ada api yang tampak.


Jendela ketiga yang dibuka memperlihatkan banjir besar yang menuju istana. Lagi-lagi, setelah jendela tersebut ditutup dan kembali dibuka, banjir tersebut hilang.


Pada saat jendela keempat dibuka, tampaklah taman firdaus~dan pada saat jendela ditutup dan kembali dibuka, taman tersebut itu hilang tak berbekas, sama seperti yang terjadi pada jendela-jendela sebelumnya.


Selanjutnya, Syaikh meminta seember air, dan Sultan diminta untuk memasukkan kepalanya beberapa saat. Tepat ketika Sultan melakukan hal tersebut, ia menemukan dirinya sedang terasing sendirian di sebuah pantai tak bertuan, sebuah tempat yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

Mantera ajaib Sang Syaikh telah membuat Sang Sultan terusir keluar dari istananya dalam keadaan yang murka, dan Sang Sultan bersumpah untuk membalas dendam pada Syaikh Sufi tersebut.


Di pengasingannya Sang Sultan berjumpa dengan beberapa orang penebang pohon yang mempertanyakan siapakah gerangan dirinya. Karena ia tak mungkin menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya, Sang Sultan mengatakan bahwa ia adalah seorang pelaut yang terdampar. Para penebang pohon tersebut lalu memberinya beberapa potong pakaian.


Kemudian Sultan masuk ke dalam kota dan di sana ada seorang pandai besi yang melihatnya mondar-mandir tanpa tujuan. Pandai besi itupun bertanya siapa dirinya. Sang Sultan menjawab, “Saya adalah seorang pedagang yang terdampar, selamat berkat belas kasihan para penebang kayu, dan saat ini menjadi seorang gelandangan.”


Pandai besi tersebut kemudian memberitahukannya sebuah kebiasaan di negeri tersebut. Setiap pendatang baru diperkenankan untuk meminang wanita yang keluar dari rumah pemandian jika wanita tersebut menerima pinangannya. Sultan segera menuju ke rumah pemandian dan melihat seorang gadis cantik keluar. Sultan mempertanyakan apakah sang gadis sudah menikah, dan ternyata sudah. Sultan pun harus bertanya kepada perempuan berikutnya, yang kebetulan adalah seorang wanita yang jelek, dan ternyata ia pun sudah menikah. Hingga akhirnya Sultan bertemu dengan wanita keempat yang cantik bak bidadari. Wanita tersebut menyatakan bahwa ia belum menikah, akan tetapi ia tak sudi menerima pinangan Sultan sebab pakaian dan penampilannya yang amat sangat menyedihkan.


Sang Sultan termangu sendirian. Hingga tak lama berselang, seorang laki-laki berdiri di belakangnya dan berkata: “Aku dikirim untuk menemui seorang pengemis di sini. Ikutilah aku.”


Sang Sultan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti pelayan tersebut, dan ia diajak untuk masuk ke sebuah rumah yang sangat indah.


Di salah satu kamar yang megah ia duduk selama berjam-jam, hingga akhirnya empat orang wanita cantik dan berbusana indah masuk mendahului wanita kelima yang jauh lebih cantik. Sultan mengenali wanita kelima tersebut sebagai wanita terakhir yang dipinangnya di rumah pemandian. Wanita itu menyambutnya dan menjelaskan bahwa ia sengaja untuk bersegera pulang agar dapat mempersiapkan diri menyambut kedatangannya, dan bahwa penolakannya tadi hanyalah salah satu bentuk lain dari kebiasaan negeri tersebut, yang harus dilakukan oleh semua wanita.


Berikutnya dibawalah masuk berbagai masakan yang lezat, dan jubah yang indah juga diberikan pada Sultan, sementara musik yang merdu mulai mengalun.


Sultan tinggal di sana selama tujuh tahun bersama istri barunya, hingga seluruh harta warisan wanita tersebut habis tak bersisa. Kemudian wanita itu menyatakan bahwa saat ini Sultan harus menghidupinya dan ketujuh anak laki-laki mereka.


Teringat pada pandai besi yang merupakan teman pertamanya di kota itu, Sultan pun mendatanginya untuk berkonsultasi. Karena Sultan tidak memiliki barang dagangan atau ketrampilan apapun, si pandai besi memberinya saran untuk pergi ke pasar dan menawarkan tenaga sebagai kuli.


Sepanjang hari bekerja mengangkut beban yang luar biasa berat, ia hanya mendapat sepersepuluh uang yang dibutuhkannya untuk makan sekeluarga. Hal ini membuat Sang Sultan bersedih hati.


Pada hari berikutnya, Sang Sultan berjalan-jalan ke tempat pertama kali ia terdampar tujuh tahun yang lalu. Ia melamun mengeluhkan nasibnya dan akhirnya ia memutuskan untuk berdoa. Sultan pun mulai mengambil air wudlu. Secara tiba-tiba dan ajaib, ia mendapati dirinya sudah kembali di istana, di depan setimba air, di hadapan Syaikh Sufi, dan majelisnya.




“Tujuh tahun dalam pembuangan, jahanam!” sumpah serapah Sang Sultan pada Sang Syaikh. “Tujuh tahun, berumah tangga dan menjadi kuli! Tidak takutkah Engkau pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan ulahmu ini?”


“Tapi itu hanya sekejap saja,” kata Sang Syaikh Sufi, “dihitung sejak Anda memasukkan kepala anda ke dalam air.”


Majelis membenarkan pernyataan Sang Syaikh.


Sang Sultan sama sekali tidak percaya satu patah kata pun. Ia segera mengeluarkan perintah agar kepala Sang Syaikh dipenggal. Mendapat firasat bahwa hal buruk akan terjadi, Sang Syaikh segera merapalkan Ilmu Al-Ghaibat: Ilmu Menghilang. Secara tiba-tiba, ia sudah berada di Damaskus, yang berjarak berhari-hari perjalanan. Dari sana ia menuliskan surat untuk Sang Sultan:


“Tujuh tahun berlalu bagi Tuan, seperti yang telah Tuan alami sendiri. Sesungguhnya itu, hanya sekejap saja, selama kepala Tuan masuk ke dalam air. Hal ini bisa terjadi dengan melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan ini bukanlah sebuah pertanda khusus tentang apapun, kecuali hanyalah sebuah gambaran tentang apa yang bisa dan mungkin terjadi. Bukankah menurut riwayat tersebut tempat tidur Nabi masih hangat dan bukankah guci air yang tumpah belum lagi kosong?


“Yang terpenting bukanlah apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau apakah faktornya. Tuan, peristiwa apapun mungkin saja terjadi. Yang terpenting adalah makna dari peristiwa tersebut. Dalam kasus keterasingan Tuan, sama sekali tidak ada makna apa-apa. Sementara dalam Mi’raj Nabi, terdapat makna yang amat sangat penting.”

[Diterjemahkan dari bagian pembuka Bab 4 dari buku Robert E. Ornstein, The Psychology of Consciousness: Revised Edition, Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1977, yang menyadur Idries Shah, Tales of the Dervishes, New York: E. P. Dutton, 1970, hal. 35-38. Dan gambar ini juga diambil dari ilustrasi bagian pembuka Bab 4 tersebut.]

Bukan Proses dan Hasil Akhir Part III

Kau menganggap dirimu miskin? Pikirkan lagi. Pendapatanmu tak jelas karena memang pekerjaanmu sendiri tak jelas. Dalam sehari kau makan hanya satu kali. Itu pun hanya dengan sambal terasi. Walau kadang diselingi telur dadar yang bercampur teri. Aku bisa merasakan pahitnya keadaanmu di ujung lidahku. Dan wajarlah jika kau menganggap dirimu miskin.

Tapi, pernahkah kau menghitung kemiskinanmu itu? Dalam sehari kau harus mengeluarkan tiga ribu rupiah untuk makan bersama istri dan dua anakmu. Dalam sebulan pengeluaranmu itu saja sudah berjumlah 90 ribu rupiah. Dan sudah berapa lama kau telah menjalani hal ini? Anggap saja ini sudah berlangsung selama empat tahun. Empat juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Itu baru untuk perutmu saja. Belum untuk membeli pakaian yang mungkin hanya satu stel dalam setahun. Kalau satu stel pakaian berharga 150 ribu rupiah, maka kau membutuhkan 600 ribu rupiah untuk 4 stel. Dalam empat tahun jumlah itu berubah menjadi dua juta empat ratus ribu rupiah. Artinya, kebutuhan sandang dan panganmu selama empat tahun sudah menghabiskan enam juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah. Uang yang banyak. Belum lagi untuk biaya kontrakan yang berjumlah tiga juta per tahun. 12 juta untuk empat tahun. Delapan belas juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah. Dan kau masih menganggap dirimu miskin?

Pernahkah kau membayangkan jika keadaanmu bisa saja sama persis dengan seorang lain di sekitarmu atau mungkin bahkan di belahan lain dunia ini? Aku rasa kau tidak pernah melakukannya. Apa lagi untuk memikirkan seseorang yang keadaannya yang tidak seberuntung dirimu. Ya, kan? Aku yakin kau lebih suka menghabiskan waktumu memikirkan keadaan seseorang (atau mungkin lebih dari seorang) yang menurutmu jauh lebih beruntung darimu. Mungkin seorang PNS dengan gaji lima juta rupiah per bulan yang istrinya juga adalah seorang abdi negara bergaji empat juta sebulan.

Haha!

Jangan terjebak, kawan.

Berkacalah pada apa yang terjadi pada Ayyub AS saat ia hanya tinggal tulang-belulang dengan lidah dan hati.

Seribu Kelereng


Beberapa minggu yang lalu, saya menyeret kaki saya ke basement dengan secangkir kopi panas di satu tangan, dan surat kabar baru di tangan yang lain. Apa yang tadinya hanya merupakan hari Sabtu pagi biasa ternyata berubah menjadi sebuah pelajaran yang luar biasa penting bagi saya.


Selanjutnya saya memutar-mutar frekuensi radio dengan tujuan untuk mendengarkan sebuah acara hiburan Sabtu pagi yang menyenangkan. Akhirnya saya mendengar sebuah suara tua yang penuh wibawa berbicara melalui telepon. Orang yang sudah berumur tersebut sedang menyampaikan sebuah teori kepada penyiar yang menemaninya berbicara ~sebuah teori tentang seribu kelereng.


Entah kenapa, saya memilih untuk mendengarkannya. Orangtua itu berkata, “Baiklah, Tom (si penyiar radio). Tampaknya Anda sibuk dengan pekerjaan yang Anda miliki. Saya yakin pekerjaan itu memberikan bayaran yang layak untuk Anda, tapi patut disayangkan betapa pekerjaan itu telah membuat Anda harus berada jauh dari keluarga. Sayang sekali Anda tidak bisa menyaksikan pertunjukan tari putri Anda di sekolah.” Ada jeda sejenak. Jelas sekali Tom tidak bisa membantah pernyataan tersebut. “Tom, izinkan saya menyampaikan sesuatu kepada Anda... sesuatu yang sudah membantu saya menjaga sebuah perspektif terhadap prioritas-prioritas yang saya miliki. Saya menyebutnya dengan teori seribu kelereng.


“Begini, suatu saat saya duduk dan melakukan sedikit perkalian matematika. Sebagaimana yang kita ketahui, usia rata-rata manusia adalah tujuhpuluh lima tahun. Kemudian saya mengalikan 75 dengan 52 dan hasilnya adalah 3900, yang merupakan jumlah dari hari Sabtu yang ada di sepanjang rata-rata usia manusia. Sekarang, dengarkan saya Tom. Saya akan menyampaikan bagian yang terpenting.


“Ketika saya memikirkan hal ini secara detail, saya sudah menginjak usia limapuluh lima tahun... artinya, saya sudah menjalani sekitar 2800 hari Sabtu. Saya jadi berpikir, jika memang saya berkesempatan untuk hidup selama tujuhpuluh lima tahun, maka hanya ada sekitar seribu hari Sabtu lagi yang bisa saya nikmati. Jadi, saya mendatangi toko mainan dan membeli semua kelereng yang mereka punya. Bahkan, saya harus mengunjungi tiga buah toko untuk bisa membulatkan jumlah seribu kelereng. Saya membawa seribu butir kelereng itu pulang ke rumah dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah plastik yang cukup besar. Sejak saat itu, setiap hari Sabtu, saya mengambil satu kelereng dan membuangnya. Ketika menyaksikan berkurangnya kelereng-kelereng tersebut, saya menyadari bahwa saya cenderung memfokuskan perhatian saya pada hal yang benar-benar penting dalam hidup saya. Tak ada hal terbaik yang bisa membantu Anda meluruskan prioritas-prioritas Anda selain menjadi saksi dari berkurangnya waktu Anda di muka bumi ini.


“Sekarang, izinkan saya menyampaikan satu hal lagi sebelum saya menutup telepon dan mengajak istri saya sarapan. Pagi ini, saya baru saja mengambil satu kelereng terakhir dari wadah plastik yang saya sebutkan tadi. Saya berpikir, jika saya masih bisa menikmati hari Sabtu depan, itu artinya saya mendapatkan sedikit waktu ekstra. Dan, sedikit waktu ekstra adalah sebuah kesempatan yang kita semua bisa manfaatkan. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Tom. Saya harap Anda bisa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga Anda.”


Kemudian, ia menutup telepon. Hening sekali suasana di sekitar saya waktu itu. Saya kira orang tersebut baru saja memberikan banyak sekali bahan yang bisa kita pikirkan. Tadinya, saya berencana untuk memperbaiki antena, kemudian merapikan e-mail dari kantor... tapi saya memilih untuk merubah rencana saya. Sebaliknya, saya menaiki tangga menuju kamar tidur dan membangunkan istri saya yang cantik dengan sebuah kecupan hangat.

“Bangun, sayang. Aku akan membuat sarapan untukmu dan anak-anak.”

“Ada apa sih?” bidadari itu bertanya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.

“Tidak. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja sudah lama sekali kita tidak menikmati hari Sabtu bersama anak-anak.”


Hening sejenak.

By the way, bisakah kita mampir di toko mainan saat kita keluar nanti? Aku perlu membeli beberapa butir kelereng.”

____________
Diambil dan diterjemahkan dari Dr. Tim Elmore, Nurturing The Leader Within Your Child, Thomas Nelson Publishers, 2001. 

(Edisi Bahasa Indonesia: Elmore, Bagaimana Mengasah & Mengukuhkan Jiwa Kepemimpinan dalam Diri Anak-anak Anda, Garailmu, Jogjakarta, Maret 2010)

lihat juga: