Tersiar bantahan dari pihak keluarga PutuWijaya terkait kekurangan dana yang sempat menghiasi beberapa media
jejaring sosial belakangan ini. Termasuk yang saya posting sejak kemarin.
Radhar Panca Dahana pun di akun
twitternya telah menyatakan bahwa bantuan untuk Putu Wijaya sudah bisa
dihentikan.
Bagaimana pun juga, terima kasih atas segenap
bantuan dan doa yang sudah teman-teman berikan.
Akhirnya, semoga keadaan dan kesehatan Putu
Wijaya semakin membaik.... Amin.
Silahkan kunjungi link di atas ntuk kabar
terkait... :)
Terima kasih... :)
seseorang menuliskan bahwa, dalam mengatasi berbagai kefasadan di muka bumi ini, #khilafah adalah jalan satu-satunya… admin tersenyum... :) lantas, dengan segenap kedhaifan, admin pun iseng menuliskan kata tanya, yakinkah sampean kalau #khilafah adalah jalan satu-satunya? jangan2 sampean hanya #khilaf_ah… *sembari tak lupa menyantumkan senyum :) mungkin merasa tergelitik oleh kata tanya iseng admin tersebut, orang itu pun menjawab, MENURUT ANDA ADA JALAN LAIN?
Pada bulan Ramadhan 1431 H atau 2009 M, KH Ahmad Ishomuddin, yang
kini menjadi Rois Syuriah PBNU termuda, diminta oleh sebuah surat kabar
di Lampung untuk mengisi sebuah kolom di surat kabar tersebut terkait
dengan masalah-masalah fiqih Ramadhan.
Suatu hari, ada
seorang tamu yang datang ke rumah beliau dan “iseng” menanyakan perihal
penggunaan sirene sebagai alat bantu yang menandakan tibanya waktu imsak
yang memang banyak dipergunakan di daerah Sumatera.
Lantas, Ishomuddin
pun menjawab
pertanyaan tersebut melalui kolom di surat kabar yang ia ampu. Di dalam tulisan di kolom tersebut, ia
menyimpulkan—dengan dalil dan hujjah yang bisa
dipertanggungjawabkan—bahwa hukum membunyikan sirene sebagai pertanda
waktu imsak adalah mubah atau boleh.
Ternyata, tidak semua
orang mampu dan bersedia menerima jawaban tersebut. Nyatanya, pada hari
di mana surat kabar menerbitkan tulisan tersebut, Ishomuddin menerima
sebuah pesan singkat atau SMS di ponselnya yang berisikan sebuah
peringatan: “Sebagai seorang kyai, Anda jangan menebarkan dan
mengajarkan bid’ah. Karena, jika menggunakan sirene sebagai tanda imsak
merupakan perbuatan baik, niscaya yang pertama kali menggunakan sirene
sebagai tanda imsak adalah Rasulullah SAW, dan beliaulah yang pertama
kali memerintahkannya kepada para sahabat. (Sekadar memberi
peringatan!!!)”
Menerima SMS sedemikian, Ishomuddin pun
berpikir untuk memberikan jawaban SMS yang simbang, tidak kurang dan
tidak lebih—sesuai prinsip tawassuth, tawadzun dan i’tidal khas NU. Dan pada akhirnya, jawaban yang ia berikan berbunyi berikut: “Jika mengirimkan peringatan
melalui SMS merupakan sebuah perbuatan baik, niscaya Rasulullah SAW
adalah orang pertama yang mengirimkan peringatan melalui SMS kepada para
sahabat. (Sekadar memberikan jawaban!!!)”
:)
Disarikan
dari Sambutan KH Ahmad Ishomuddin dalam acara “Silaturrahim PBNU dengan
Keluarga Besar NU DIY” di Gedung Bapendan Wonokromo Bantul pada tanggal
15 April 2012.
TAFSIR BEBAS TERHADAP WEJANGAN KH MASRUR AHMAD MZ
(PENGASUH PP AL-QODIR TANJUNG WUKIRSARI CANGKRINGAN SLEMAN) TENTANG TERAPI
PECANDU NARKOBA DI PONDOK PESANTREN AL-QODIR WUKIRSARI CANGKRINGAN
SLEMAN
Muhammad Yusuf Anas
[Ditulis
sebagai laporan untuk LKNU dalam rangka menemani kunjungan Pak
Atthobari, Mbak Fitri Nur Aina dan Mbak Dyah Putri M dari PABM
(Pemulihan Adiksi Berbasis Masyarakat) “FAJAR HARAPAN” LKNU DIY dan
beberapa penasun di PP Al-Qodir Cangkringan Sleman pada tanggal 8 April
2012, pukul 15.00-16.30 WIB]
Ketika orang-orang kafir Quraisy hendak menganiaya Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam suatu hari, Sayyidina Abu Bakar radliyallaahu 'anhu menghalangi mereka dengan meneriakkan protes menuntut KEBEBASAN BERKEYAKINAN:
Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen) 29 Oktober 2009 10:26:29
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sebelum jilbab populer seperti
sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia
memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak
belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat
pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan
mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan
tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat
kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.
Dalam soal syariat agama, seperti
banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria,
sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut
pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan.
Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa
memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan
menyemprotnya dengan lugas.
Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang
gelas tangan kiri, "Bapak kan muslim, mestinya bapak tahu soal
tayammun;" katanya, "Nabi kita menganjurkan agar untuk melakukan sesuatu
yang baik, menggunakan tangan kanan!" Dosen yang lain ditegur
terang-terangan karena merokok. "Merokok itu salah satu senjata setan
untuk menyengsarakan anak Adam di dunia dan akherat. Sebagai dosen,
Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu." Dia juga pernah
menegur terang-terangan dosennya yang memelihara anjing. "Bapak tahu
enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau
datang ke rumah orang yang ada anjingnya!"
Di samping ketaatan dan kelugasannya, apabila bicara tentang Islam,
Hindun selalu bersemangat. Apalagi bila sudah bicara soal kemungkaran
dan kemaksiatan yang merajalela di Tanah Air yang menurutnya banyak
dilakukan oleh orang-orang Islam, wah, dia akan berkobar-kobar bagaikan
banteng luka. Apalagi bila melihat atau mendengar ada orang Islam
melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia
mengecapnya sebagai klenik atau bahkan syirik yang harus diberantas. Dia
pernah ikut mengoordinasi berbagai demonstrasi, seperti menuntut
ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat;
demonstrasi menentang sekolah yang melarang muridnya berjilbab; hingga
demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. Mungkin
karena itulah, dia dijuluki kawan-kawannya si bidadari tangan besi. Dia
tidak marah, tetapi juga tidak kelihatan senang dijuluki begitu. Yang
penting menurutnya, orang Islam yang baik harus selalu menegakkan amar
makruf nahi mungkar di mana pun berada. Harus membenci kaum yang ingkar
dan menyeleweng dari rel agama.
Bagi Hindun, amar makruf nahi mungkar bukan saja merupakan bagian dari
keimanan dan ketakwaan, tetapi juga bagian dari jihad fi sabilillah.
Karena itu dia biarkan saja kawan-kawannya menjulukinya bidadari tangan
besi.Ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu,
ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur
terang-terangan agak berkurang. Mungkin ini disebabkan karena Mas Danu
orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering
melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru
lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak
kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh
suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.*
Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka, kabar Mas Danu dan Hindun.
Dulu sering aku menerima telepon mereka. Sekadar silaturahmi. Saling
bertanya kabar. Tetapi, kemudian sudah lama mereka tidak menelepon. Aku
sendiri pernah juga beberapa kali menelepon ke rumah mereka, tapi selalu
kalau tidak terdengar nada sibuk, ya, tidak ada yang mengangkat. Karena
itu, ketika Mas Danu tiba-tiba menelepon, aku seperti mendapat kejutan
yang menggembirakan.
Lama sekali kami berbincang-bincang di telepon, melepas
kerinduan.Setelah saling tanya kabar masing-masing, Mas Danu bilang,
"Mas, Sampeyan sudah dengar belum? Hindun sekarang punya syeikh baru lo?
"Syeikh baru?" tanyaku. Mas Danu memang suka berkelakar."Ya, syeikh baru. Tahu, siapa? Sampeyan pasti enggak percaya.
"Siapa, mas?" tanyaku benar-benar ingin tahu."Jibril, mas. Malaikat Jibril!""Jibril?" aku tak bisa menahan tertawaku.
Kadang-kadang sahabatku ini memang sulit dibedakan apakah sedang bercanda atau tidak."Jangan ketawa! Ini serius!
"Wah. Katanya, bagaimana rupanya?" aku masih kurang percaya."Dia tidak
cerita rupanya, tetapi katanya, Jibril itu humoris seperti Sampeyan.
"Saya ngakak. Tetapi, di seberang sana, Mas Danu kelihatannya
benar-benar serius, jadi kutahan-tahan juga tawaku. "Bagaimana
ceritanya, mas?
"Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi
musim grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman;
pengajian pensiunan; dan entah apa lagi. Nah, lama-lama gurunya itu
didatangi malaikat Jibril dan sekarang malaikat Jibril itulah yang
langsung mengajarkan ajaran-ajaran dari langit. Sedangkan gurunya itu
hanya dipinjam mulutnya.
"Bagaimana mereka tahu bahwa yang datang itu malaikat Jibril?""Lo,
malaikat Jibrilnya sendiri yang mengatakan. Kepada jemaahnya, gurunya
itu, maksud saya malaikat Jibril itu, menunjukkan bukti berupa
fenomena-fenomena alam yang ajaib yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh
manusia.
"Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, mas!"
selaku, "Kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang
termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuhan
berbentuk cahaya yang terang benderang. Konon, sebelumnya, Iblis sudah
berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena
keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir bisa mengenalinya dan segera
mengusirnya.
"Tak tahulah, mas. Yang jelas jemaahnya banyak orang pintarnya
lo."Wah."Ketika percakapan akhirnya disudahi dengan janji dari Mas Danu
dia akan terus menelepon bila sempat, aku masih tertegun.
Aku membayangkan sang bidadari bertangan besi yang begitu tegar ingin
memurnikan agama itu kini "hanya" menjadi pengikut sebuah aliran yang
menurut banyak orang tidak rasional dan bahkan berbau klenik. Allah
Mahakuasa! Dialah yang kuasa menggerakkan hati dan pikiran orang.
Beberapa minggu kemudian aku mendapat telepon lagi dari sahabatku Mas
Danu. Kali ini, dia bercerita tentang istrinya dengan nada seperti
khawatir.
"Wah, mas; Hindun baru saja membakar diri. "Apa, mas?" aku terkejut setengah mati, "membakar diri bagaimana?
"Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk
membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri
mereka dengan spritus kemudian membakarnya.
"Hei," aku ternganga. Dalam hati aku khawatir juga, soalnya aku pernah
mendengar di luar negeri pernah terjadi jemaah yang diajak guru mereka
bunuh diri.
"Yang lucu, mas," suara Mas Danu terdengar lagi melanjutkan, "gurunya
itu yang paling banyak terbakar bagian-bagian tubuhnya. Berarti kan dia
yang paling banyak dosanya ya, mas?!
"Aku mengangguk, lupa bahwa kami sedang bicara via telepon."Doakan sajalah mas!" kata sahabatku di seberang menutup pembicaraan.
Beberapa hari kemudian Mas Danu menelepon lagi, menceritakan bahwa
istrinya kini jarang pulang. Katanya ada tugas dari Syeikh Jibril yang
mengharuskan jemaahnya berkumpul di suatu tempat. Tugas berat, tetapi
suci. Memperbaiki dunia yang sudah rusak ini.
"Pernah pulang sebentar, mas" kata Mas Danu di telepon, "dan Sampeyan
tahu apa yang dibawanya? Dia pulang sambil memeluk anjing. Entah dapat
dari mana?"***Setelah itu, Mas Danu tidak pernah menelepon lagi. Aku
mencoba menghubunginya juga tidak pernah berhasil. Baru hari ini. Tak
ada hujan tak ada angin, aku menerima pesan di HP-ku, SMS, isinya
singkat: "Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak
berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu).
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Danu saat menulis
SMS itu. Aku sendiri yang menerima pesan itu, tidak bisa menggambarkan
perasaanku sendiri. Hanya dari mulutku meluncur saja ucapan masya Allah.
***Rembang, Akhir Ramadan 1423
Pernah dimuat di media Indonesia, 3 September 2003
[Seminar Nasional Pengembangan Model Pembelajaran
Sastra yang Komunikatif dan Kreatif, Universitas Negeri Semarang, Ahad,
7 Juni 2009]
Sekolah saya berpindah-pindah, sejak Sekolah Rakjat
(sekarang SD) sampai dengan SMA. SR saya di Solo, Semarang, Salatiga,
Yogya,
SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, Pekalongan dan Whitefish Bay,
Wisconsin.
Pertumbuhan diri saya berlangsung di delapan kota itu, dan masing-masing
kota
itu memberi kenangan indah tersendiri.
Kedua orangtua
saya guru di Pekalongan di masa penjajahan Belanda. Mulai zaman
pendudukan
Jepang ayah saya jadi wartawan di Semarang, di harian Sinar Baroe
(belakangan
menjadi Suara Merdeka). Saya belajar di Sekolah Rakjat Indonesia di
Bergota,
rumah kami di Redjosari Gang I nomor 6. Ayah dan ibu suka membaca.
Lemari buku
ayah saya besar. Biasanya sekali sebulan saya dibawa ke toko buku di
Pasar
Djohar, dibonceng naik sepeda. Ikut ayah yang membeli buku, saya boleh
memilih
dua buku untuk dibawa pulang. Pada umur masih kecil begitu saya sudah
mulai
membaca roman Tak Putus Dirundung Malang, karya St. Takdir Alisjahbana.
Ketika masih
pelajar SMP Negeri 1 di Bukittinggi, dan SMA Negeri Pekalongan pada
tahun
1950-an, di kedua sekolah saya itu tidak ada perpustakaan. Karena suka
membaca,
saya jadi anggota Perpustakaan Kota, di Bukittinggi di Jalan Lurus, di
Pekalongan di Kali Loji. Kedua-duanya dekat dari sekolah.
Sangat
kebetulan, ketika di Pekalongan, Djawatan Pendidikan Masjarakat
memberikan
kepercayaan kepada beberapa LSM, untuk masing-masing mengelola sebuah
perpustakaan kecil. Kepada Peladjar Islam Indonesia, diserahkan kl 300
judul
buku. Karena beranda rumah orangtua saya besar di Djalan Kedjaksan 52,
PII
menaruhnya di sana dalam sebuah lemari. Saya dan S.N. Ratmana mengelola
perpustakaan yang dibuka sehari seminggu, tiap hari Ahad pagi sampai
sore itu.
Kawan-kawan di
sekolah yang suka membaca, datang meminjam buku. Favorit saya buku-buku
petualangan Winnetou karangan Karl May. Lalu puisi Amir Hamzah, Chairil
Anwar,
Sitor Situmorang, cerpen Idrus, Pramudya Ananta Tur, antologi Gema Tanah
Air
H.B. Jassin, novel Hamka, Takdir Alisjahbana, Abdul Muis, dan
seterusnya. Puisi
Dunia, terjemahan Taslim Ali, 2 jilid sangat saya sukai.
Karena kunci
lemari buku saya yang memegang, dan lemari itu terletak di beranda
rumah, saya
leluasa betul membaca buku dari hari Senin sampai Sabtu. Saya membaca
agak
sembarangan. Misalnya tuntunan bertanam anggrek Sutan Sanif dan prosedur
mengecor beton bertulang Prof. Rooseno pun saya baca. Buku Pak Rooseno
yang
merupakan buku teks mahasiswa fakultas teknik itu saya bawa-bawa ke
sekolah,
dilagak-lagakkan kepada teman-teman. Mereka heran. “Kau baca buku itu?”
“Ya.”
“Tamat?” “Ya.” “Apa isinya?” “’Nggak ‘ngerti.” Mereka pun batal, tak
jadi
kagum.
Beberapa kawan
yang gemar membaca ini terdorong pula menulis. Kami penggemar majalah
Mimbar
Indonesia dan Kisah, yang memuat sajak dan cerpen. Pak H.B. Jassin duduk
sebagai redaktur sastra di kedua majalah tersebut. Kami berlomba-lomba
mengirim
karangan ke sana. Lima orang berhasil menembus kedua majalah itu. Muhsin
Djalaludin Zuhdy (sajak), Hadi Utomo (cerpen), Sukamto A.G. (sajak),
S.N. Ratmana
(cerpen) dan saya (sajak). Yang bertahan terus menulis sampai sekarang
adalah
dua orang yang terakhir ini.
Pada masa
bersamaan Ajip Rosidi (Jakarta), W.S. Rendra (Solo), Motinggo Busye
(Bukittinggi), Alwi Dahlan (Bukittinggi), Suwardi Idris (Bukittinggi),
Nh. Dini
(Semarang), S.M. Ardan (Jakarta) juga mulai menulis ketika masih jadi
pelajar
SMA. Bahkan Ajip dan Busye sudah mencuri start ketika masih di SMP.
Kami menulis
karena dirangsang bacaan. Buku dan majalah memberi stimulasi besar untuk
mengarang.
Buku yang kami baca tidak dari perpustakaan sekolah. Karangan yang kami
tulis
bukan karena dibimbing guru mengarang di kelas bahasa. Guru Bahasa
Indonesia
saya di SMA Pekalongan lebih mengajarkan tatabahasa dan tak ada
perhatian pada
pelajaran mengarang. Kami kebetulan saja senang perpustakaan. Kebetulan
pula
bersaing-saing sesama teman, sehingga berlatih menulis sendiri tanpa
dibimbing
guru.
Beratus-ribu
tamatan SMA Indonesia sejak pengakuan kedaulatan 1950 sampai sekarang
menjadi
Generasi Nol Buku, yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Nol Buku
karena tidak
mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah, sehingga rabun
membaca.
Lumpuh menulis karena hampir tak ada latihan mengarang di sekolah.
MEMBANDING
DENGAN NEGARA-NEGARA LAIN
Antara
Juli-Oktober 1997 saya melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan
SMA 13
negara. Saya bertanya tentang 1) kewajiban membaca buku, 2) tersedianya
buku
wajib di perpustakaan sekolah, 3) bimbingan menulis dan 4) pengajaran
sastra di
tempat mereka. Berikut ini tabel jumlah buku sastra yang wajib dibaca
selama di
SMA bersangkutan (3 atau 4 tahun), yang tercantum di kurikulum,
disediakan di
perpustakaan sekolah, dibaca tamat lalu siswa menulis mengenainya, dan
diuji:
Buku Sastra
Wajib di SMA 13 Negara
Tabel 1
NO
ASAL SEKOLAH
BUKU WAJIB
NAMA SMA / KOTA
TAHUN
1
SMA Thailand Selatan
5 judul
Narathiwat
1986-1991
2
SMA Malaysia
6 judul
Kuala Kangsar
1976-1980
3
SMA Singapura
6 judul
Stamford College
1982-1983
4
SMA Brunei Darussalam
7 judul
SM Melayu I
1966-1969
5
SMA Rusia Sovyet
12 judul
Uva
1980-an
6
SMA Kanada
13 judul
Canterbury
1992-1994
7
SMA Jepang
15 judul
Urawa
1969-1972
8
SMA Internasional, Swiss
15 judul
Jenewa
1991-1994
9
SMA Jerman Barat
22 judul
Wanne-Eickel
1966-1975
10
SMA Perancis
30 judul
Pontoise
1967-1970
11
SMA Belanda
30 judul
Middleburg
1970-1973
12
SMA Amerika Serikat
32 judul
Forest Hills
1987-1989
13
AMS Hindia Belanda-A
25 judul
Yogyakarta
1939-1942
AMS Hindia Belanda-B
15 judul
Malang
1929-1932
SMA Indonesia
0 judul
Di Mana Saja
1943-2008
Catatan: Angka
di atas hanya berlaku untuk SMA responden (bukan nasional), dan pada
tahun-tahun dia bersekolah di situ (bukan permanen). Tapi sebagai
pemotretan
sesaat, angka perbandingan di atas cukup layak untuk direnungkan
bersama.
Apabila buku sastra 1) tak disebut di kurikulum, 2) dibaca cuma
ringkasannya,
3) siswa tak menulis mengenainya, 4) tidak ada di perpustakaan sekolah,
dan 5)
tidak diujikan, dianggap nol. Angka nol buku untuk SMA Indonesia sudah
berlaku
65 tahun lamanya, dengan kekecualian luarbiasa sedikit pada beberapa SMA
tertentu saja.
Bila siswa AMS
Hindia Belanda wajib membaca buku 25 judul dalam masa 3 tahun,
bagaimanakah
wajib menulis mereka?
Siswa AMS wajib
menulis 1 karangan seminggu. Karangan disetor, diperiksa guru, diberi
angka,
minggu depannya satu karangan lagi, minggu depannya satu karangan lagi.
Panjang
karangan satu halaman. Jumlahnya 18 karangan satu semester, 36
karangan
setahun, 108 karangan 3 tahun.
Menurut
observasi saya pada beberapa SMA, kewajiban mengarang berlangsung 3-5
kali
setahun. Banyak SMA yang cuma sekali setahun, mirip sholat Idulfitri.
Jadi
dalam 3 tahun paling banyak 15 karangan. Dibanding dengan AMS, jatuhnya
serendah 5,2 %. Tabel berikutnya:
Tabel 2
No
SEKOLAH MENENGAH ATAS
WAJIB BACA BUKU (TIGA TAHUN)
WAJIB MENULIS KARANGAN (TIGA
TAHUN)
1
HINDIA BELANDA
25 JUDUL BUKU
108 KARANGAN
2
REPUBLIK INDONESIA
NOL BUKU
3 – 15 KARANGAN
Tabel 3
TUGAS MENULIS SISWA AMS HINDIA
BELANDA
TUGAS MENULIS SISWA MALAYSIA
(SMA KOLEJ MELAYU)
TUGAS MEMBACA BUKU SISWA SMA
AMERIKA SERIKAT
1 KARANGAN / MINGGU
14 HALAMAN KETIK / MINGGU
44 HALAMAN / MINGGU
36 KARANGAN / TAHUN
504 HALAMAN KETIK / TAHUN
1584 HALAMAN / TAHUN
108 KARANGAN / 3 TAHUN
2016 HALAMAN KETIK / 4 TAHUN
6336 HALAMAN / 4 TAHUN
Tabel 4
PERBANDINGAN
LIMA KOMPONEN kelas 9 – 12 (S MA AS 4 tahun), di 1210 SMA, 1989
1
SASTRA
50 %
2
MENGARANG
28 %
3
TATABAHASA
10 %
4
BICARA
9 %
5
LAIN-LAIN
3 %
(Arthur
Applebee, Literature in the Secondary Schools -- Studies of Curriculum
and
Instruction in the United States, National Council of Teachers of
English,
Urbana, Illinois, 1993. Angka-angka merupakan hasil penelitian Applebee
di 1210
SMA, 1989).
BILAKAH
MUSIBAH BESAR NOL BUKU & 15 KARANGAN, YANG DULU 25 BUKU & 108
KARANGAN
ITU BERMULANYA?
Tragedi Nol Buku
ini berlangsung pada awal 1950. Ketika seluruh aparat pemerintahan sudah
sepenuhnya di tangan sendiri, demi mengejar ketertinggalan sebagai bekas
negara
jajahan, yang mesti membangun jalan raya, bangunan, rumah sakit,
jembatan,
pertanian, perkebunan, kesehatan, perekonomian, maka yang diunggulkan
dan
disanjung adalah jurusan eksakta (teknik, kedokteran, pertanian,
farmasi),
ekonomi dan hukum.
Wajib baca 25
buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis,
karena dipandang tidak perlu. Ini kesalahan peradaban luar biasa besar.
Ketika
saya perlihatkan hasil observasi (dalam tabel) itu kepada Menteri
Wardiman
Djojonegoro (1997), beliau terkejut. “Sudah demikian burukkah
keadaannya?”
tanyanya. “Ya,” jawab saya.
APA TUJUAN
MEMBACA 25 BUKU DAN MENULIS 108 KARANGAN?
Kedua kewajiban
itu tidak bertujuan menjadikan siswa sastrawan. Tidak. Kemampuan membaca
dan
menulis diperlukan di setiap profesi. Membaca buku sastra mengasah dan
menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Latihan menulis mempersiapkan
orang
mampu menulis di bidangnya masing-masing.
Seorang Anak
Baru Gede dari Padang pada tahun 1919 masuk sekolah SMA dagang menengah
Prins
Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya
ketagihan
membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu
jadi
ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sebaya dia,
di AMS
Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari
buku.
Tapi dia lebih suka ilmu politik, sosial dan nasionalisme. Insinyur
teknik ini
melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.
Sastra
menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa
jadi
dewasa. Rosihan Anwar (kini 87) tetap membaca 2 buku seminggu. Buku apa
saja.
“Jiwa saya merasa dahaga kalau saya tak baca buku,” kata beliau.
Demikianlah
rasa adiksi yang positif itu bertahan lebih dari setengah abad, bahkan
seumur
hidup.
Latihan menulis
108 karangan membekali Hatta, Sukarno, Muhammad Natsir, Sjahrir, Haji
Agus
Salim, Muhammad Yamin, Tan Malaka dan kawan-kawan seangkatan mereka
menulis
buku di bidang masing-masing. Yamin jadi sastrawan, tapi juga penulis
sejarah.
Tragedi Nol Buku
ini, yang sudah berlangsung 65 tahun lamanya, dengan mudah dapat
dijelaskan
kini akibatnya. Tamatan SMA Nol Buku sejak 1950 (saya tak sempat
menghitung
dengan teliti tapi pastilah meliputi beberapa juta orang), dengan
rentang umur
antara 35 – 70 tahun, mereka inilah yang kini jadi warga Indonesia
terpelajar
serta memegang posisi menentukan arah negara hari ini di seluruh strata,
pemerintah dan swasta. Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia
sekarang,
mungkin sekali karena dalam fase pertumbuhan intelektual mereka,
orang-orang
itu membaca nol buku di sekolah.
Mereka
Generasi Nol Buku. Kita Generasi Nol
Buku. Generasi
yang Rabun Membaca dan Pincang Menulis. Kalau pun ada sebagian kecil
dari
kita yang banyak membaca dan mampu menulis, pasti itu dilakukan dengan
ikhtiar
sendiri di luar ruang sekolah (bukan dibimbing oleh sebuah sistem
pendidikan
nasional) atau karena beruntung mendapat kesempatan belajar ke luar
negeri.
DENGAN SANGAT
SEDIKIT KEKECUALIAN, KITA SEMUA BERBEKAL NOL BUKU KETIKA BERSEKOLAH,
TIDAK
MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK DITANAMKAN RASA KETAGIHAN MEMBACA BUKU,
KECINTAAN
PADA BUKU, KEINGINAN BERTANYA KEPADA BUKU DALAM SEMUA ASPEK KEHIDUPAN
DAN KEBIASAAN
MENGUNJUNGI PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT MERUJUK SUMBER ILMU, DAN
KONSEKWENSINYA
MEMBIASAKAN MENULIS SEBAGAI EKSPRESI PERASAAN SERTA PERNYATAAN
KECENDEKIAAN.
Agaknya kita
mengabaikan firman Allah paling awal yang diturunkan ke bumi, yaitu
Kata
paling nomor satu berupa
perintah membaca
kepada seluruh ummat manusia,
dan mengajarkan
penggunaan pena untuk menulis.
Kita tidak cerdas
menafsirkannya dan kita sangat terlambat di Indonesia memperbaikinya.
Dalam mendiskusikan
pengajaran sastra yang apresiatif dan kreatif, sebagaimana tujuan
majelis
kita ini, maka mari kita perbaiki bersama pengajaran membaca dan
menulis di
lembaga pendidikan kita, sejak dari SD, SMP, SMA sampai perguruan
tinggi.
CARA PANDANG
(PARADIGMA) BARU DALAM MENGAJARKAN SASTRA
Untuk meletakkan
dasar yang kuat suatu program kegiatan mengatasi keterbelakangan kita,
maka
tentulah lebih dahulu ditetapkan cara pandang, paradigma baru sebagai
acuan
dalam membantu memperbaiki pengajaran membaca, mengarang dan apresiasi
sastra
di SMA kita. Ko-insidensi sangat menguntungkan yang terjadi adalah
gelombang
reformasi 1998, yang melepaskan Indonesia dari monolithisme politik 39
tahun
Orde Lama dan Orde Baru, sehingga terbuka luaslah peluang bagi paradigma
ini,
yang tidak akan mungkin terbuka di kedua Orde terdahulu tersebut:
1. Siswa
dibimbing memasuki sastra secara asyik, nikmat dan gembira.
Pendekatannya
bukan pendekatan keilmuan seperti memahami fisika, dan juga bukan
pendekatan
penghafalan seperti penghafalan tahun-tahun sejarah. Kita harus mampu
membentuk
citra sastra di hati siswa sebagai sesuatu yang menyenangkan, yang
membuat
mereka antusias, dan yang mereka rasa perlukan.
2. Siswa membaca
langsung karya sastra puisi, cerita pendek, novel, drama dan esai, bukan
melalui ringkasan. Karena itu, buku-buku yang disebut dalam kurikulum,
mesti
tersedia di perpustakaan sekolah.
3. Kelas
mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan, sehingga tidak
terasa jadi
beban, baik bagi siswa, maupun untuk guru. Mengarang mesti dirasakan
sebagai
ekspresi diri yang melegakan perasaan. Kiat atau metodanya harus
ditemukan, dan
itu sudah ditemukan, serta dipraktekkan 3 tahun dalam pelatihan MMAS.
Cara kuno
memberi judul klise seperti “Cita-citaku” atau “Pengalaman Berlibur di
Rumah
Nenek” mesti diganti dengan imajinasi yang kaya, yang sesuai dengan
fantasi
siswa. Mengarang bukan cuma menulis laporan, tapi menggugah imajinasi
dan
menuntun siswa berfikir.
4. Ketika
membicarakan karya sastra, aneka-ragam tafsir harus dihargai. Tidak ada
tafsir
tunggal terhadap karya sastra. Guru harus terbuka terhadap pendapat
siswa yang
berbeda, sepanjang pendapat itu dikemukakan dalam disiplin berfikir yang
logis.
Dalam hal ini kelas sastra adalah kelas pendidikan demokrasi, ketika
antara umur
16-19 tahun siswa mulai diperkenalkan kepada perbedaan pendapat dan
belajar
menghargai pendapat yang lain itu. Ebtanas dengan soal pilihan ganda
untuk
tafsir karya sastra adalah kekeliruan yang harus diperbaiki.
5. Pengetahuan
tentang sastra (teori, definisi, sejarah) tidak utama dalam pengajaran
sastra
di SMU, cukup tersambil saja sebagai informasi sekunder ketika
membicarakan
karya sastra. Siswa jangan terus-terusan dibebani dengan hafalan teori
dan
definisi. Tatabahasa tidak lagi diberikan secara teoretis, tapi dicek
penggunaannya dalam karangan siswa.
6. Pengajaran
sastra mestilah menyemaikan nilai-nilai yang positif pada batin siswa,
yang
membekalinya menghadapi kenyataan kehidupan masa kini yang keras di
masyarakat.
Keimanan, kejujuran, ketertiban, pengorbanan, demokrasi, tanggung-jawab,
pengendalian diri, kebersamaan, penghargaan pada nyawa manusia,
optimisme,
kerja keras, keberanian mengubah nasib --- adalah antara lain
nilai-nilai luhur
yang hancur di masa kini, terutama dalam 5 tahun terakhir ini. Karena
itu,
karya sastra yang relevan dengan nilai-nilai itulah yang harus kita
pilih untuk
disajikan kepada siswa, dan didiskusikan di kelas. Kemudian akan tumbuh
kearifan siswa kepada manusia dan kehidupan, terasah sensitivitas
estetiknya,
dan terpupuk empatinya pada duka-derita nasib orang-orang yang malang.
Rangkaian cara
pandang segar atau paradigma anyar ini, baru akan benar-benar tercapai
maksudnya apabila ditunjang oleh kurikulum yang sejalan dan serasi
dengan
paradigma ini.
GERAKAN
SASTRA MAJALAH HORISON, 1996 - SEKARANG
Sehubungan
dengan masalah di atas, majalah sastra Horison menggerakkan enam butir
kegiatan
gerakan sastra, dengan sasaran dunia pendidikan, yang bertujuan
meningkatkan:
budaya membaca buku, kemampuan mengarang, dan apresiasi sastra.
Rangkaian
aktivitas tersebut adalah sebagai berikut ini:
NO
KEGIATAN
SASARAN
PENDANAAN
1
Sisipan Kakilangit
Siswa dan Guru
Majalah Sastra Horison
2
Pelatihan MMAS
Guru
Depdiknas
3
Kegiatan SBSB
Siswa dan Guru
The Ford Foundation
4
Kegiatan SBMM
Mahasiswa
The Ford Foundation
5
LMKS dan LMCP
Guru
Depdiknas
6
SSSI
Siswa
The Ford Foundation
Sisipan
Kakilangit ditujukan untuk siswa SMA dan sederajat, dilaksanakan sejak
1996.
Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) selama 7 hari
untuk guru
bahasa dan sastra SMA se-Indonesia, 1999-2008, diikuti k.l. 2.000 guru
di 11
kota.
Kegiatan SBSB
(Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) mendatangkan sastrawan ke SMA dan
Pondok
Pesantren, membacakan karya dan berdiskusi dengan siswa serta guru.
Dalam
rentang masa 2000-2008 telah dikunjungi 213 sekolah di 164 kota, 31
provinsi,
oleh 113 sastrawan dan 11 aktor/aktris, bertemu dengan k.l. 100.000
siswa dan
guru.
Mahasiswa
Fakultas Sastra dan Fakultas Bahasa & Seni menjadi sasaran kegiatan
SBMM
(Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca), 2000-2002 di 9 universitas, dengan
mendatangkan 18 sastrawan yang berbicara tentang bukunya.
Guru distimulasi
mengarang dengan Lomba Mengulas Karya Sastra dan Lomba Menulis Cerita
Pendek,
2000-2008, diikuti oleh sekitar 300 guru setiap tahunnya.
Untuk menampung
energi kegiatan sastra siswa dibentuk 30 Sanggar Sastra Siswa Indonesia
(SSSI)
di 30 kota (sejak 2002), berbasis di SMA.
Rumah Puisi
Berdasarkan
pengalaman kegiatan sekitar 10 tahun di atas, yang memancar dari ibukota
ke 164
kota Indonesia, maka saya dan isteri saya Ati, bercita-cita mencoba
menghimpun
kegiatan tersebut di sebuah titik lokasi, diberi nama Rumah Puisi, tanpa
menghentikan atau mengganti kegiatan yang sudah terselenggara sejak 1998
hingga
kini itu.
Lokasi yang
dipilih adalah kawasan pertemuan dua kaki gunung, yaitu Singgalang dan
Merapi,
yaitu Nagari Aie Angek, km 6 Jalan Raya Padang Panjang – Bukittinggi.
Mohon didoakan,
semoga peningkatan budaya baca buku, kemampuan menulis dan apresiasi
sastra
anak bangsa tercapai, sehingga terbentuk manusia terpelajar, bermartabat
dan
dinaungi keteduhan ridha Ilahi. Amin.***
Jakarta, Mei
2009.
KUPU-KUPU DI
DALAM BUKU
Ketika duduk di
setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu
praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang
di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya
di negeri mana
gerangan aku sekarang,
Ketika berjalan
sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan
yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya
lampunya terang benderang,
kulihat
anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca
dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya
di perpustakaan
negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika
bertandang di sebuah toko,
warna-warni
produk yang dipajang terbentang,
orang-orang
memborong itu barang
dan mereka
berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya
di toko buku
negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika singgah
di sebuah rumah,
kulihat ada anak
kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak
bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian
katanya,
“tunggu, tunggu,
mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu
tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya
di rumah negeri
mana gerangan aku sekarang,
Agaknya inilah
yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis
dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan
perguruan, kota dan desa buku dibaca,