Menu

Thursday, July 26, 2012

Niyyato, tsumma istaqim!

Selepas sahur hari kedua Ramadlan kemarin, aku tergoda untuk menikmati jamaah Sholat Shubuh di masjid pondok. Yah, namanya juga mumpung Ramadlan... hehehe.... Malu juga rasanya selalu menjadi "penumpang gelap Ramadlan" yang sukanya hanya duduk manis tau-tau lebaran [meminjam kosakata Bung Zamzami al-Makki]. Hehehe....

Aku pun segera beranjak ke masjid pondok dan selanjutnya berjuang keras untuk tenggelam dalam syahdu.

***

Singkat kata, salam menutup rangkaian shalat jamaah yang dipimpin langsung oleh beliau, Romo Kiyai Haji Zainal Abidin Munawwir. Untaian dzikir demi dzikir melantun penuh makna dari lisan beliau, dan diamini oleh para makmum yang berjejal memadati masjid. Namun, perlahan-lahan semuanya mulai terdengar lamat-lamat di telingaku. Hehehe... bagi Anda yang menduga bahwa aku tertidur, aku beri jempol atas benarnya dugaan Anda itu. :P

Tuesday, July 10, 2012

Mutiara-mutiara Hikmah Mauidhoh As Syaikh Dr. Muhammad Syarif As Showwaf

Mutiara-mutiara Hikmah Mauidhoh As Syaikh Dr. Muhammad Syarif As Showwaf
posted by rikhsan nurhadian suhandi | Jum'at 2012-05-25

http://www.almunawwir.com/index.php/images/view_s/149

AD-DAHRU FI HIMAMY!

Uraian Hikmah Syaikh Syarif As-Showwaf di Serambi

Masjid Al-Munawwir Krapyak

Ka Az-Zahri fi Tarofin wa Al-Badri fi Syarofin # wa Al-Bahri fi Karomin wa Ad-Dahri fi Himami

Sunday, June 24, 2012

Jawaban Abu Nawas terhadap Pertanyaan yang Sama dari Tiga Orang Berbeda

Abu Nawas sebenarnya adalah seorang sufi yang cerdas. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.
Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan.” kata Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.
Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan.” kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.
Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang iebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu.” jawab Abu Nawas. Orang ketiga menerima aiasan Abu Nawas.
Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas. Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya. “Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”
“Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati.”
“Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas. “Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.” jawab Abu Nawas mengandaikan.
“Apakah tingkatan otak itu?” tanya murid Abu Nawas. “Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan.” jawab Abu Nawas.
“Lalu apakah tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.
“Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah.”
Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa membujuk Tuhan?”
“Mungkin.” jawab Abu Nawas.
“Bagaimana caranya?” tanya murid Abu Nawas ingin tahu.
“Dengan merayuNya melalui pujian dan doa.” kata Abu Nawas
“Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.” pinta murid Abu Nawas
“Doa itu adalah : llahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa’alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘adhimi.
Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar."

the sufi ways.

sumber: Mbah Roso

Saturday, June 23, 2012

KH Zainal Abidin Munawwir - Pengasuh PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Seperti biasa, disalin dari status seorang guru.... :)
___________________________
"Termasuk kewajiban agama yang fardlu ‘ain adalah memikirkan ciptaan Allah. Semuanya menjadi tanda bukti keagungan Allah. Memikirkan berbagai jenis tumbuhan: semuanya diberi air yang sama, tetapi masing2 menumbuhkan buah yang berbeda2. Memikirkan hal2 seperti itu akan menambah kuat keimanan dan ketauhidan kita. Termasuk kewajiban agama adalah nahi mungkar, yang antara lain, bila tahu anaknya gaduh, padahal sedang ada jama’ah, maka orangtua berkewajiban memberi peringatan kepada mereka." [KH Zainal Abidin Munawwir - Pengasuh PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta]

Friday, May 18, 2012

Jurus Ampuh Berdebat dengan Wahhabi (Disalin dari http://www.sarkub.com)


Setelah menulis buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” pada tahun 2008, kemudian setahun berikutnya menulis buku Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlus sunnah wal Jama’ah, Idrus Ramli, penulis buku Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi ini bersama tim LBM NU Jember seringkali diminta mengisi pelatihan dan internalisasi Aswaja di kalangan nahdliyyin. Dalam kegiatan tersebut tak jarang juga diundang tokoh-tokoh salafi. Dari proses dan hasil perdebatan inilah buku ini kemudian ditulis.