 |
| sumber: google.com |
Suatu hari, di penghujung dekade 90-an, aku terhimpit di tengah kerumunan orang yang berjejalan di muka Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Niat di hati saat itu adalah ingin meraih dan mengecup tangan beliau, Gus Dur. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Aku gagal.
Kegagalan tersebut semula tak begitu aku pedulikan. Aku sangat yakin bahwa akan ada kesempatan lain bagiku untuk melakukan itu. Namun, sayangnya, hingga kepergian beliau tiga tahun lalu, aku belum mewujudkannya. Ya,
I only got my self to blame mengapa aku tak kunjung mampu sowan semasa beliau masih hidup.
Sesal kuadrat. Barangkali itulah yang kemudian menghampiriku. Terlebih hingga kini aku pun belum juga sowan sepeninggal beliau. Namun demikian, jujur saja aku menghibur diri, bahwa niatku untuk ta'zhim pada Gus Dur sudah tersampaikan. Entah lewat jalan mana.