Menu
Saturday, August 30, 2014
Sunday, August 3, 2014
Khatib Gaul
Hmmm...
Ada komentar? :)
Di lingkungan pesantren, memakai peci saat salat seperti sebuah kewajiban. Rasanya ada yang aneh dan serasa kurang sreg melaksanakan salat tanpa peci. Santri yang kebetulan gothaannya berada di lantai tiga pun rela naik untuk mengambil pecinya demi bisa menjalankan salat jamaah di langgar dengan berpeci. Di langgar pondok hampir tidak pernah ditemui seorang berjamaah tanpa peci.
Monday, July 14, 2014
16 Ramadhan 1435
Tuhan
sungguh Engkau Maha Ada
dan tanpa Belas Kasih-Mu
aku sebutir debu pun bukan, sebuih busa pun bukan
Tuhan
sungguh Engkau Maha Baik
dan hamba demikian bodoh
tak berdaya menterjemah kebaikan yang telah Engkau mudahkan
Tuhan
sungguh Engkau Maha Segala
Engkau telah mengirimkan orang-orang baik sebagai perantara Rahmat-Mu
dan aku teramat sombong senantiasa menuntut lebih
Tuhan
sungguh Engkau Maha Pengampun
dan mengampuni adalah Sifat-Mu
dan akulah yang amat dahaga menghiba Ampunan-Mu
Kauman, 14 Juli 2014
sungguh Engkau Maha Ada
dan tanpa Belas Kasih-Mu
aku sebutir debu pun bukan, sebuih busa pun bukan
Tuhan
sungguh Engkau Maha Baik
dan hamba demikian bodoh
tak berdaya menterjemah kebaikan yang telah Engkau mudahkan
Tuhan
sungguh Engkau Maha Segala
Engkau telah mengirimkan orang-orang baik sebagai perantara Rahmat-Mu
dan aku teramat sombong senantiasa menuntut lebih
Tuhan
sungguh Engkau Maha Pengampun
dan mengampuni adalah Sifat-Mu
dan akulah yang amat dahaga menghiba Ampunan-Mu
Kauman, 14 Juli 2014
Saturday, June 28, 2014
Menjelang "Perang"
"Apakah kemudian jika pilihanmu tak sesuai dengan harapanmu, kau tetap akan menolak yang bukan pilihanmu itu?" tanya bapak-bapak yang sudah cukup berumur itu.
"Ya, aku tentu akan terus mempertahankan pilihanku! Aku sudah membayangkan semua azab yang akan menimpaku jika harus menyerah memperjuangkan pilihanku! Bahkan, jika perlu, aku akan mempelajari segala hal yang akan membahayakanku jika yang bukan pilihanku mengalahkan pilihanku. Bukankah semua agama dan seluruh arif bestari mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa?" sahut anak muda itu berapi-api.
"Ya, aku tentu akan terus mempertahankan pilihanku! Aku sudah membayangkan semua azab yang akan menimpaku jika harus menyerah memperjuangkan pilihanku! Bahkan, jika perlu, aku akan mempelajari segala hal yang akan membahayakanku jika yang bukan pilihanku mengalahkan pilihanku. Bukankah semua agama dan seluruh arif bestari mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa?" sahut anak muda itu berapi-api.
Friday, April 11, 2014
Bapakku bukan Perekayasa Konflik (Disalin dari http://alissawahid.wordpress.com)
Senin malam, 25 Pebruari 2012, saya membaca mention di twitter tentang berita Cak Imin yang akan mendirikan monumen GusDur di Singkawang, Kalimantan. Kota yang banyak dihuni saudara sebangsa berdarah Tionghoa, yang tentu saja sangat menghormati Gus Dur. Walau saya mempertanyakan apakah kiranya sebagai orang yang substantif dan tidak suka seremoni, Bapak suka dibuatkan monumen; bukan soal itu yang mengganggu batin saya. Sudah beberapa waktu terakhir ini, saya ingin menulis tentang Bapak dan konflik PKB cak Imin dari kacamata saya sebagai anak. Tulisan ini adalah kegelisahan saya atas narasi yang semakin sering saya dengar dari mulut dan tulisan orang-orang PKB Cak Imin.
Pertama kali, saya mendengarnya langsung dari seorang politisi PKB Cak Imin, saat ia meminta saya untuk menjembatani PKB Cak Imin dengan keluarga Ciganjur. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali didekati untuk menjadi jembatan ishlah, tetapi narasi ini belum pernah saya dengar. Sejak itu, saya mulai banyak mendengarnya dari orang-orang lain dari berbagai penjuru, baik langsung dari mulut mereka maupun via social-media, baik dari kawan-kawan Nahdliyin maupun dari aktivis PKB Cak Imin.
Subscribe to:
Posts (Atom)

