Menu

Friday, November 21, 2014

Cerita Konfusius dan Yan Hui, Muridnya


Yan Hui adalah murid kesayangan Konfusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak : “3 × 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata : “Sobat, 3 × 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Konfusius. Benar atau salah Konfusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui : “Baik, jika Konfusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain : “Kalau Konfusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui : “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Konfusius. Setelah Konfusius tahu duduk persoalannya, Konfusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3 × 8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Konfusius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Konfusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Konfusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Konfusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Konfusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat: “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Konfusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
“Apakah saya akan membunuh orang?”
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Konfusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur di samping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Konfusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Konfusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung di bawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Konfusius: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3 × 8 = 23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3 × 8 = 24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata: “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu.” Sejak itu, kemanapun Konfusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Disalin dari status fb Alfathri Adlin

Wednesday, November 19, 2014

Rezeki dan Ikhtiar

Orang bijak mengajarkan, “Di saat kau bertanya-tanya dalam ketaktahuan akan di mana keberadaan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu tahu pasti di mana kau berada. Dari langit, laut, gunung ataupun lembah, Rabb memerintahkannya menujumu. Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Maka, melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Tugas kita bukan mengkhawatirkan rezeki, atau bermuluk cita memilikinya. Tugas kita adalah menyiapkan jawaban ‘dari mana’ dan ‘untuk apa’ bagi setiap karunia.”

“Betapa banyak orang bercita-cita menggenggam dunia hingga ia alpa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang tertulis dalam angka, melainkan apa yang ia nikmati. Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya, demi angka simpanan gaji yang sangat mungkin esok pagi ditinggalkannya mati. Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rezeki pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan-Nya.”

“Kita bekerja sejatinya untuk bersyukur, untuk menegakkan taat dan untuk berbagi manfaat. Tapi rezeki tak selalu terletak di balik pekerjaan kita, Allah menaruhnya sekehendak-Nya. Bukankah Hajar berlari tujuh kali bolak-balik dari Shafa ke Marwah, tapi Zamzam justru terbit dan mancur di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rezeki itu kejutan.”

“Rezeki adalah kejutan yang datang dari arah tak terduga, untuk disyukuri hamba yang bertaqwa. Tugas hamba cuma-lah menempuh jalan halal sebab Allah-lah yang melimpahkan bekal. Sekali lagi, yang terpenting bagi kita di setiap kali kita meminta, dan di setiap kali Allah memberikan karunia-Nya, adalah menjaga sikap saat menjemput rezeki dan menjawab soalan, ‘Buat apa?’”

“Betapa banyak yang merasa telah memiliki manisnya dunia justru lupa bahwa semua ini hanya-lah ‘hak pakai’ yang halal-nya akan dihisab dan haram-nya akan diadzab. Banyak orang yang mencampakkan keikhlasan amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata untuk bantu sesama, tapi ia lupa bahwa ‘ibadah’ apapun sesungguhnya semata-mata atas pertolongan-Nya.”

“Dengan itu kita mohon agar setiap tetes keringat dan jengkal langkah kita tercatat sebagai ikhlas kepada-Nya, sebagai tanda bakti dan ibadah hanya untuk Allah semata.”

Duhai Yang Maha Segala… anugerahi hamba hidup mulia dan berkah.
Aamiin Allahumma aamiin.

Al-Fatihah.

disalin dengan editan seperlunya dari status fb Khalid M Nor Matutu

Saturday, August 30, 2014

Rais Am Mendukung Haul bagi Para Nyai

Di balik kesuksesan seorang lelaki, ada perempuan hebat. Ungkapan ini tentu sudah sangat akrab di telinga kita. Kenyataan memang membenarkan hal tersebut. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW mengajarkan seorang anak harus berbakti kepada ibunya tiga kali lipat dibanding terhadap ayah.

Niat tulus berbakti kepada ibu inilah yang diyakini Gus Mus telah mendorong KH Rifqi Ali Maksum, atau yang biasa disapa Gus Kelik, bersama Jamaah Dibaan Bil Mustofa asuhannya menyelenggarakan acara Majelis Dzikir, Sholawat dan Birrul Walidain Haul Ibu Nyai Hj. Hasyimah Munawwir, Jumat 29 Agustus 2014 malam di Lapangan Utara Komplek Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Hadir sebagai penyampai mauidzoh hasanah dalam acara tersebut, Rais Am KH A Mustofa Bisri menegaskan dukungannya atas haul bagi para nyai. Menurutnya, selama ini hampir semua pesantren kita hanya melaksanakan haul bagi para kiai, namun jarang sekali melaksanakan haul bagi para nyai. Padahal, peran ibu-ibu nyai dalam perjuangan para kiai sangat besar. 

Rais Am lantas mengajak ribuan hadirin yang memadati majlis dzikir dan sholawat tersebut untuk merenungkan peran para nyai yang berjuang di sisi para ulama nusantara dalam menyebarkan dan mengibarkan syiar Islam di tanah air. Bahkan, Gus Mus juga mengutip betapa besar jasa Sayyidatina Khadijah saat menerima permintaan dari Rasulullah SAW agar beliau diselimuti selepas menerima wahyu pertama. Kemampuan Khadijah menenangkan kecemasan Rasulullah SAW yang baru saja bertemu Malaikat Jibril adalah contoh pentingnya peranan perempuan.

“Dan malam ini kita diberikan contoh yang baik oleh Gus Kelik yang merayakan Haul Ibu Nyai Hasyimah Ali Maksum. Semoga ini bisa diikuti dan akan hadir nanti di berbagai tempat haul Nyai Hasyim Asy’ari, Nyai Wahab Hasbullah, Nyai Bisri Syansuri dan seterusnya,” ajaknya.

Rais Am juga menyampaikan kecemasan bahwa kurangnya penghormatan kita terhadap peran perempuan bisa jadi menyumbang saham dalam keadaan terkini negara kita saat ini. Menurutnya kondisi perempuan-perempuan sekarang ini cenderung berakhir sebagai komoditi. Betapa tidak? Kenyataan mnunjukkan bahwa perempuan-perempuan disuruh menjadi penjual sabun dengan cara mandi di depan orang banyak sambil cengengesan untuk kemudian ditayangkan di tivi, menjadi penjual odol dan sikat gigi, menjadi penjual sepeda motor dengan rok yang sangat mini hingga menggiring anak-anak muda kita untuk tergiur membeli sepeda motor hanya karena ingin punya pacar seperti perempuan yang ditayangkan di tivi itu.

Sehingga, menurut Rais Am, ada baiknya jika haul para nyai juga diadakan agar para santri mampu belajar menghormati perempuan. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang juga hadir memimpin ribuan jamaah Syechermania melantunkan puji-pujian sholawat juga menyampaikan hal yang senada. Habib Syech menyatakan semoga dengan meneladani para ibu nyai melalui majlis-majlis haul, insya Allah santri-santri perempuan bisa menjaga kehormatan dirinya, serta menolak dan tidak tergiur untuk dijadikan sekadar sebagai komoditi.

Tepat sebelum tengah malam, acara Majelis Dzikir, Sholawat dan Birrul Walidain Haul Ibu Nyai Hj. Hasyimah Munawwir itu pun lantas dipungkasi dengan mahallul qiyam—segmen khusus untuk melantunkan sholawat sambil berdiri yang mencerminkan harapan besar akan kesediaan Rasulullah SAW untuk hadir menyaksikan pujian bagi beliau—dan lagu Indonesia Raya.


Sunday, August 3, 2014

Khatib Gaul

Hmmm...
Ada komentar? :)

Di lingkungan pesantren, memakai peci saat salat seperti sebuah kewajiban. Rasanya ada yang aneh dan serasa kurang sreg melaksanakan salat tanpa peci. Santri yang kebetulan gothaannya berada di lantai tiga pun rela naik untuk mengambil pecinya demi bisa menjalankan salat jamaah di langgar dengan berpeci. Di langgar pondok hampir tidak pernah ditemui seorang berjamaah tanpa peci.
“Atribut” yang hampir mirip dengan itu adalah sarung dan baju yang cukup rapih. Di langgar pesantren hampir tak ditemui seorang santri berjamaah memakai T-shirt atau pantalon. Peci, sarung, dan gamis adalah syiar pesantren yang telah menjiwa dalam diri seorang santri.Alkisah, ada seorang santri pergi sekolah ke Mesir. Di sana, dalam sebuah orientasi, seorang guru besar alumnus Kairo yang datang berkunjung menyampaikan bahwa setiap orang mengalami perubahan-perubahan tertentu. Perubahan itu tidak secara tiba-tiba dan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perubahan itu pelan-pelan, bertahap, dan acap kali tidak terasa.
Santri tersebut sangat terkesan dengan pesan itu. Ia menjadikannya sebagai cermin buat dirinya. Manusia selalu mengalami perubahan! Memang tidak setiap perubahan adalah buruk. Banyak perubahan justru positif. Tapi tetap harus waspada.
Dia pun melihat dirinya. Yang dulu kurang sreg salat dengan pantalon sekarang sudah sangat terbiasa. Begitu pula dengan baju salatnya. Sudah sering ia menanggalkannya dan dia ganti dengan kaos, bahkan hanya dengan T-shirt yang tentu saja tak berkerah. Dan pecinya, justru ia kadang merasa aneh memakainya.
Beberapa tahun kemudian, ketika dia sudah senior, ia mendapat panggilan dari gurunya agar besok datang ke rumahnya (di daerah Marag Gadid). Suaranya di telphon kurang jelas hingga sulit ia pahami. Dia hanya mengerti besok disuruh datang.
Besoknya, hari Jumat, dia memenuhi panggilan. Dia pergi sowan dengan santai, bercelana blue jeans, kaos berkerah, dan tentu saja tanpa peci. Berkali-kali dia mengetuk pintu rumahnya yang berada di lantai dua, tapi tak ada jawaban. Tampaknya beliau sedang pergi. Tapi ia merasa aneh, kalau memang pergi kenapa justru ia dipanggil ke rumah?
Dia turun ke masjid, tempat dimana dia biasa bertemu dengan gurunya tersebut. Di situ dia diberi kabar oleh muadzin bahwa sang guru pergi ke kampung, dan dia berpesan agar yang menggantikannya jadi khatib dan imam adalah muridnya dari Indonesia.
“Kamu fulan bin fulan? Dari Indonesia?” tanya Pak Muadzin.
“Iya, benar ..” jawab si Santri.
“Kamulah yang disuruh mengggantikan jadi Khatib!”
Mungkin itu adalah peristiwa satu-satunya di dunia. Ada seorang khatib memakai blue jeans, kaos, dan tak berkopyah.
Untuk Sang Guru, Abdur Rahman Awis, salah satu korban Masjid Rabiah al-Adawiyyah kala bedil pasukan As-Sisi mengganas.


sumber: Status Gus Ghofur Maimoen

Monday, July 14, 2014

16 Ramadhan 1435

Tuhan
sungguh Engkau Maha Ada
dan tanpa Belas Kasih-Mu
aku sebutir debu pun bukan, sebuih busa pun bukan

Tuhan 
sungguh Engkau Maha Baik
dan hamba demikian bodoh
tak berdaya menterjemah kebaikan yang telah Engkau mudahkan

Tuhan
sungguh Engkau Maha Segala
Engkau telah mengirimkan orang-orang baik sebagai perantara Rahmat-Mu
dan aku teramat sombong senantiasa menuntut lebih

Tuhan
sungguh Engkau Maha Pengampun
dan mengampuni adalah Sifat-Mu 
dan akulah yang amat dahaga menghiba Ampunan-Mu

Kauman, 14 Juli 2014